Kisah Kasih SMA

“Tok, bisa ke kantin sepulang sekolah?”, ucap Ratih lirih ketika berendeng menuju ke lapangan upacara pagi ini.

Antok langsung mengangguk pelan dan Ratih langsung menjauh dari Antok begitu melihat anggukan Antok. Dewi dan Ratna langsung senyum-senyum melihat adegan sepintas yang tak tertangjkap oleh beberapa orang yang sama-sama menuju ke lapangan upacara.

Upacara hari ini ternyata berlangsung cepat dan bahkan diumumkan semua siswa boleh langsung pulang seusai upacara. Gemuruh riuh peserta upacara membuat Antok sedikit bingung. Apakah dia harus langsung ke kantin atau menunggu jam pulang sekolah yang normal.

Hatinya sudah berdetak tak keruan sejak Ratih memberikan bisikan sebelum upacara tadi.

“Bukankah semua sudah jelas? Kenapa aku harus bertemu lagi dengan Ratih?”

Terbayang di mata Antok adegan malam minggu kemarin. Sebuah vespa butut terparkir di depan rumah Ratih dan Antok kenal betul siapa empunya Vespa butut itu. Pasti Adi sedang bertamu di rumah Ratih dan ini pasti akan jadi malam minggu yang panjang buat Antok.

Kecemburuan Antok pada Adi sudah sampai ke ubun-ubun dan nampaknya Ratih sama sekali tak pernah merasakan betapa sakit hati Antok setiap melihat Ratih duduk di boncengan Adi. Kalau ada batu yang bisa dilempar, rasanya ingin sekali Antok melempar Adi dengan batu sekeras-kerasnya. Minimal menghancurkan Vespa tua yang selalu dipuji-puji oleh Ratih.

“Butakah mata Ratih dengan motorku yang jauh lebih nyaman dan lebih mahal? Bahkan kalau perlu aku bisa membawa mobil yang terparkir di garasi rumah?”, geram sekali Antok kalau melihat ujud Vespa itu.

Andai Adi satu sekolah dengan Antok, pasti sudah hancur Vespa itu dikerjain oleh teman-teman Antok yang selalu penuh rasa solider dengan Antok.

Di ketuknya pintu rumah Ratih dan bi Icah yang membukakan pintu untuk Antok. Belum sempat keluar kata dari mulut Antok, bi Icah sudah langsung nyerocos.

“Wah mas Antok terlambat. Mbak Ratih sudah menunggu dari tadi”

“Loh memang Ratih mau kemana?”, pikir Antok

“Baru saja berangkat sama Om Wildan dan anaknya tuh. Katanya mau makan malam di resto Kuring Alam atau apa gitu…”

Antok makin tidak habis pikir. Bagaimana Ratih bisa meninggalkan dia dan pergi begitu saja dengan orang yang tidak dia kenal dan tidak ada pemberitahuan sedikitpun, baik lewat telpon maupun SMS.

Waktu di sekolah tadi pagi juga rasanya tidak ada yang aneh. Semuanya berjalan seperti biasa. Pulang sekolah Ratih masih melemparkan senyum manisnya saat dia menunggu di depan pintu gerbang sekolah, seperti biasanya. Ratih sempat juga memberikan cium jauh sebelum akhirnya hilang dari pandangan Anton.

Hari Sabtu yang biasa ini tiba-tiba berubah menjadi hari yang mengerikan buat Antok. Malam minggu yang biasanya penuh canda tawa berubah menjadi penuh misteri yang serba tidak jelas.

Dikeluarkan ponselnya dan Antok jadi terkejut setengah mati ketika mencoba menelpon Ratih. Ponsel barunya ternyata dalam kondisi mati kehabisan batere. Rasanya ingin membanting ponsel baru itu. Menyesal sudah Antok mengabaikan pesan Ratih saat di kantin sekolah tadi siang.

“Batere ponselmu itu boros lho. Android kan? Ntar aku telpon gak nyambung lho kalau mati”

“Ah batere ini 1.5 kali lebih hebat kapasitasnya dibanding handphone lamaku kok”

“Oooo… aku cuma denger kabar saja, katanya batere ponselmu itu boros”

Antok tersenyum manis dan menunjukkan ponselnya di depan Ratih. “Periksa aja spesifikasinya”, kata Antok sambil menyorongkan ponselnya ke Ratih.

Malam ini, Antok baru menyesal tak terkira mendapati ponselnya mati saat sedang diperlukan.

Dengan penuh kemarahan Antok akhirnya mengarahkan motornya menuju rumah makan yang ditunjukkan bi Icah. Sepanjang jalan pikiran Antok sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Beberapa kali Antok menyumpah-nyumpah ke sopir angkot maupun para pengguna jalan yang dianggap menghalangi jalan ke resto Kuring Alam.

Sampai akhirnya Antok lepas kendali dan melaju di perempatan yang lampu merahnya sedang nyala. Tabrakan tak bisa dihindari lagi dan kedua motor yang bertabrakan itupun sama-sama jatuh di aspal.

Pengendara motor yang ditabrak Antok langsung berdiri dan menghampiri Antok. Wajahnya terlihat berang dan siap memukul Antok yang menyerobot lampu merah. Untung perbuatannya itu dicegah oleh kawannya yang membonceng.

“Din, selesaikan baik-baik, jangan main hakim sendiri”, ucap laki-laki tua itu menentramkan emosi sang pengendara motor.

Antok langsung meminta maaf setulus-tulusnya.

“Maaf pak, aku gak sengaja. Nanti kuganti semua kerusakan motor bapak”

“Aku bisa ganti sendiri kerusakan motorku. Kamu ini anak kemarin sore, maunya ugal-ugalan saja di jalan ya?”

“Maaf pak, aku minta maaf…”

Orang-orang di sekitar kejadian terlihat membantu menepikan motor dan mengatur lalu lintas agar tidak macet. Pandangan mereka sangat tidak ramah terhadap Antok.

“Din, rasanya aku kenal yang nabrak kamu ini. Kamu adik pak Anton ya?”, ucap laki-laki tua yang membuat suasana panas jadi sedikit mereda

“Iya pak, aku adik pak Anton”, Antokpun tiba-tiba merasa kenal dengan laki-laki tua itu. Kakaknya beberapa kali menunjukkan foto laki-laki tua itu padanya.

“Yah…sudahlah Din. Sedang dapat cobaan kita ini. Ditabrak adik kepala pabrikmu”

Udin yang tadinya penuh rasa geram tiba-tiba ikut terbawa suasana, apalagi ketika dia melihat kemiripan Antok dan Anton kepala pabriknya yang sangat baik kepadanya.

“Yah…sudahlah dik. Lain kali hati-hati ya. Gak usah lapor kakakmu. nanti habis kamu dimarahin kakakmu sendiri”, Udin menepuk pundah Antok sambil menyodorkan tangan kanannya.

“Makasih pak. Saya sedang tergesa-gesa dan sedang kalut pikiran jadi tidak memperhatikan lampu sudah lama merah pak”

“Hahahaha…. dasar anak muda di malam minggu, pikirannya pasti mau pacaran saja”, Udin tertawa sambil merapihkan bajunya yang kotor dan tidak teratur akibat jatuh.

“Memang mau kemana acara malam minggunya?”

“Ke Kuring Alam pak”

“We lha kok sama ya? Hahaha….kayak adegan sinetron saja kita ini”, Udin kembali tertawa sementara pak Dhe tersenyum di belakang Udin. Merekapun akhirnya berkendara berendeng menuju ke Resto Kuring Alam.

Sampai di resto, Antok terus mengikuti Udin yang langsung menuju ke ruang VIP.

“Mana pacarmu?”, tanya Udin

“Nggak tahu pak, katanya dia disini”

“Lho kok tidak tahu?”

“Aku ikut pak Udin dan Pak Dhe saja. Nanti kalau ketemu pacarku aku pindah kursi”

Ada tiga ruangan VIP dan Udin langsung menuju ke ruang VIP paling ujung. Terlihat sudah banyak orang di ruangan itu dan pak Dhe langsung disambut meriah oleh mereka yang ada di ruang itu. Yang membuat Antok terpaku tak bisa berkata-kata adalah wajah Ratih yang ikut berada di dalam ruangan itu.

Wajah cantik itu terlihat menyimpan kemarahan dan Antok tak sanggup memandangnya. Ruangan yang riuh oleh kedatangan Udin dan Pak Dhe seperti berada di dunia lain.

“Mana Adi yang mau ke Amerika nih?”, suara keras seseorang di pintu ruang VIP membuat semua orang menoleh ke pintu VIP.

Astaga, Antok makin tidak bisa bicara lagi. Anton, kakaknya terlihat berduaan dengan istrinya berdiri di pintu yang terbuka dan belum mau masuk sebelum Adi maju menyalaminya.

Anton seperti tidak melihat Antok, walaupun Antok merasa Anton sudah melihatnya. Perlahan Antok bergeser menuju ke toilet dan akhirnya tenggelam dalam renungan panjang di toilet.

“Mas, kok lama banget di toiletnya”, suara yang dikenalnya terdengar berbarengan dengan suara ketokan di pintu toilet. Antok langsung pura-pura menyiram toilet dan keluar dari toilet.

Benar yang diduga Antok. Ada Adi berdiri di depan pintu dan dibelakangnya nampak Pak Udin.

“Oh Antok ya rupanya. Makanya tadi dicari-cari gak ada”, tersenyum Adi mecoba mencandai Antok. Tentu Antok sangat jengkel, tapi wajah Udin di belakang Adi membuat Antok tetap bisa tersenyum, meski mungkin berbentuk sebuah senyum tak ikhlas.

“Sakit perut ya?”, sapa Udin

“Iya pak. Ini acara apa sih pak, kok rame banget dan aku malah tidak tahu kalau mas Anton diundang datang”

“Hahahha… ini acara melepas anak bengal itu ke Amerika. Om Wildan datang dari Jakarta sengaja menjemput Adi eh malah Adinya main ke rumah cewek dan sampai bikin ceweknya keki tuh. Hahahaha dasar anak muda”

Antok langsung ngeloyor setelah berbasa basi sebentar dengan Udin. Langkahnya membawanya ke lapangan parkir dan langsung menuju ke tempat motornya diparkir.

“Tok, sudah lama nunggunya?”, suara lembut Ratih membuyarkan lamunan Antok

Antok tidak menjawab hanya mengangguk saja.

“Kamu kok aneh banget Tok. Telpon dimatiin, SMS gak dibales, di rumah juga ditelpon katanya kamu pergi terus entah kemana tak pernah pamit sama pembantumu atau orang tuamu”

Antok tersenyum getir. Hapenya sudah hancur dibanting di depan resto Kuring Alam. Sepanjang hari Minggu juga dia tidur di rumah dan berpesan ke pembantunya untuk berbohong, jika ada yang mencarinya. Siapapun yang mencari !

“Harusnya aku yang marah Tok, kenapa seolah-olah kamu yang berhak marah”, Ratih tiba-tiba mengeraskan suaranya. Antokpun jadi tercekat. Bukankah dia juga berhak marah?

“Sabtu sore kamu kutelepon ponselmu tidak aktif, kukirim SMS, kuceritakan kalau aku ngantar Adi sama Om Idang yang mau makan malam dengan kawan-kawannya dan mereka mengajakmu karena pak Anton, kakakmu diundang juga. Lalu apa yang terjadi?”

“……………..”

“Kamu datang bersama sahabat om Idang tanpa pernah menyapaku dan bahkan pergi begitu saja tanpa pernah pamit padaku”

Ratih tiba-tiba terisak sendiri, melihat sikap Antok yang diam seribu bahasa.

“Aku ingin mengenalkan kamu dengan Om Idang, orang yang dulu paling dekat dengan aku dan yang saking sibuknya tidak pernah punya waktu lagi untukku. Aku sudah berhasil membujuk Om Idang melalui Adi untuk mengadakan acara makan malam, sekalian perpisahan dengan Adi yang mau ke Amerika, tapi apa yang kudapat?”

Antok tiba-tiba merasa ada yang aneh mendengar cerita Ratih.

“Om Idang itu Om Wildan?”, tanya Antok lirih

“Iya memang kenapa?”

“Astaghfirullah!”, Antokpun memukul kepalanya sendiri. Menyadari kebodohannya. Tangannya baru berhenti memukul ketika tangan Ratih mencegahnya.

“Kamu gila ya?”, tanya Ratih

“Ya aku gila. Aku cemburu dengan Adi dan aku tidak tahu kalau Om Idang yang kamu ceritakan itu adalah Om Wildan ayahnya Adi”,

Beban yang selama ini begitu menyiksa Antok seperti hilang begitu saja. Kenapa harus cemburu dengan Adi, kalau dia adalah saudara Ratih. Kemesraan Adi pada Ratih telah membutakan mata Antok, padahal sebenarnya itu hanyalah kedekatan persaudaraan di antara mereka saja.

Ratihpun melongo melihat kelakuan Antok yang tak bisa dipahaminya.

Kisah Kasih SMA

+++

Gambar dari FB Film PAA, bukan gambar Antok dan Ratih.

About these ads

Tag: , , , ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.748 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: