Kesedihan Pak Dhe [1]

Pak Dhe begitu sedih mendengar berita pemecatan dirinya, sampai-sampai dia nggak bisa berkata-kata lagi. Krisis keuangan yang berkepanjangan telah membuat pabrik terpaksa mengurangi pekerjanya dan seorang satpam terpaksa dicoret dari daftar pekerja.

Pak Dhe dipilih karena telah cukup lama bekerja di pabrik dan manajemen memandang yang muda yang lebih diperlukan untuk menjaga pabrik. Lebih awas, lebih cekatan dan lebih murah gajinya.

Pihak manajemen tidak pernah berfikir kalau pak Dhe baru saja ditimpa berita yang membuat pak Dhe gemetaran. Istrinya baru saja dipecat juga dari pabrik yang lain dan anaknya baru saja mengajukan angka rupiah yang harus dipenuhinya pada minggu ini.

Semua itu masih ditambah pemilik kontrakan yang juga datang untuk menagih uang sewa yang telah beberapa bulan tidak dibayarnya.

Semakin lengkap penderitaan itu, ketika sepeda motor satu-satunya ditabrak angkot dan anaknya masuk rumah sakit. Sebegitu tegakah Tuhan telah memberikan cobaan yang begitu berat dan beruntun padanya.

Pak Dhe yang biasanya selalu bersemangat di situasi apapun pulang ke rumah dengan loyo. Hilang sudah keceriaan di wajahnya. Nasehat-nasehat yang biasa diberikan pada sahabat-sahabatnya yang tertimpa kesedihan tidak dapat diucapkannya untuk dirinya sendiri.

Dulu dia paling sering membacakan ayat-ayat Tuhan di depan sahabat-sahabatnya yang sedang menerima cobaan Allah.

“Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Diapun berdoa, agar diamini oleh sahabatnya.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya… ”

Sekarang ketika cobaan itu datang menimpanya. Ternyata pak Dhe hanya sendirian menerimanya. Tidak ada sahabat yang membacakan ayat itu padanya.

Sebelum sampai ke rumah, pak Dhe mampir ke masjid. Tugasnya sebagai anggota Badan Kemakmuran Masjid membawa langkahnya masuk ke masjid.

Seperti kebiasaan yang selalu dijalaninya, maka langkah kakinyapun langsung menuju tempat wudhu dan air wudhupun membasahi wajah pak Dhe.

Tiba-tiba pak Dhe seperti tersadar. Ada suatu rasa di lubuk hatinya yang tiba-tiba menyeruak dari hatinya yang paling dalam. Rasa yang dari tadi ingin keluar tapi tertutup oleh kesedihan yang tidak terkira.

Perlahan, senyum pak Dhe muncul kembali. Dipandanginya masjid kesayangannya itu. Inilah rumah Allah, dimana pak Dhe mengabdikan dirinya secara utuh sebagai penjaganya.

Semangat hidup pak Dhe kembali muncul. Iapun jadi ingat semua kisah-kisah yang ada dalam Al Quran. Senyum pak Dhe makin mengembang ketika bertemu dengan salah satu jamaah di masjid itu.

Ditepuknya pundak jamaah itu sambil menebar senyum khasnya. Selepas sholat untuk “menghormati masjid”, mereka berdua terlihat asyik bercengkerama sambil menanti waktu sholat wajib tiba.

Wajah pak Dhe makin merekah ketika waktu sholat wajib mulai mendekat, dilihatnya anak istrinya mendatangi masjid untuk ikut sholat jamaah. Mereka datang dengan penuh senyum, seolah tak ada kesedihan di keluarga pak Dhe.

Anak istri pak Dhe memang telah terbiasa dengan kesulitan hidup dan nasehat-nasehat pak Dhe yang tak pernah putus membuat mereka selalu tegar menghadapi hidup ini. Pak Dhe jadi tersenyum sendiri melihat senyum anak istrinya.

“Pak, motornya sudah diperbaiki sama Miun, katanya gak usah bayar gak apa-apa. Mereka maklum kok”, kata istrinya.

Pak Dhe tersenyum sambil manggut-manggut.
Alhamdulillah

“Santi juga sudah keluar dari rumah sakit. Dokternya si Jupri, anaknya bang Tohir, jadi gak usah bayar juga. Nanti akan pulang dari rumah sakit bareng sama dia”

“Alhamdulillah. Rupanya Jupri jadi pindah ke rumah sakit itu ya”

“Iya bang. Malah tadi Wak Ute juga datang. Dia mau ngembalikan hutang yang sudah terlalu lama dia pinjam, katanya.”

“Wak Ute?”

“Iya bang, memang sudah lama banget. Sekarang dia udah jadi orang kaya beneran dan dia sudah lamaaa banget nyari-nyari kita, tapi gak pernah ketemu. Dia seneng dapat menemukan kita untuk membayar hutangnya, terutama membayar hutang budi sama kita. Berkat pinjaman dari bapak dulu yang membuat Wak Ute jadi kaya”

Mata pak Dhe mulai berkaca-kaca. Belum habis doanya, dan Tuhan sudah mengirimkan malaikatnya untuk memberikan kedamaian pada keluarganya.

“Kang Asep juga datang bareng Wak Ute. Ternyata rumah yang kita tinggali itu rumah Wak Ute bang, jadi kata Wak Ute, pakai saja terus rumah itu. Soal sewa nggak usah dipikirin lagi”

“Alhamdulillah”, tanpa terasa pak Dhe bersujud. Bersyukur atas segala nikmat yang datang tanpa disangka-sangka dan dari arah yang tidak dia duga sama sekali.

Gunung kesedihan yang mulai dilepas saat air wudhu membasahi wajahnya telah hilang sirna. Tidak ada bekasnya sedikitpun.

Meski masih ada gunung-gunung kecil dan bukit-bukit terjal yang membentang di hadapannya, pak Dhe sudah tidak sedih lagi. Keyakinan akan kasih Allah membuat pak Dhe naik kelas. Ujian yang dihadapinya, kali ini, telah dilaluinya dengan baik.

Ke depan masih ada ujian yang lebih berat, tapi pak Dhe sekeluarga yakin, bersama Allah, semua ujian ataupun cobaan akan dapat dilalui dengan baik.

Benarlah semua isi kitab Allah, tidak ada keragu-raguan di dalamnya. Semua mengajarkan bagaimana menghadapi hidup ini dengan senyum, sabar dan ikhlas.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.
Kitab Allah itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”

…..

.

Tag: , , ,

40 Tanggapan to “Kesedihan Pak Dhe [1]”

  1. MMC1 : Pemimpi Yang Halal « PoJoK YoGyA (lagi) Says:

    […] teman-teman ini membuat aku mulai mengumpulkan cerita “unggulanku” dan mengumpulkannya dalam suatu blog yang kuberi nama blog dongengan. Isinya berkisar tentang cerita pak Dhe yang menjadi tokoh sentral dalam semua […]

  2. Mastermind Cikarang : Selalu ada yang baru « Mastermind Cikarang 1 Says:

    […] teman-teman ini membuat aku mulai mengumpulkan cerita “unggulanku” dan mengumpulkannya dalam suatu blog yang kuberi nama blog dongengan. Isinya berkisar tentang cerita pak Dhe yang menjadi tokoh sentral dalam semua […]

  3. bank_al Says:

    sekarang dah jadi penulis cerpen juga rupanya ya Mas? Saluuut !!!

  4. eshape Says:

    ini kayak reinkarnasi bank

    dulu suka nulis cerpen terus ditinggalin karena kerja di kontraktor

    eh, sekarang kok jadi pingin nulis lagi
    makasih dukungannya bank

    salam

  5. Surat Terbuka [secara sengaja] « PoJoK YoGyA (lagi) Says:

    […] Bagi yang ingin membaca buku ini secara online, bisa membacanya di blog saya, yaitu di https://kisahikmah.wordpress.com/ […]

  6. kusumah wijaya Says:

    sebuah karya tulis dari seorang blogger sejati yang selalu menulis dan menulis tanpa imbalan apapun. Semoga Allah membalasnya.

    salam
    omjay

  7. eshape Says:

    Salam Om Jay

    Makasih doanya
    Amin, amin, amin ya robbalalamin

    Semoga urusan kita selalu dimudahkan Allah swt
    Amin.

  8. Rui-Jm Says:

    Luar biasa menggugah dan menyejukkan.
    Semoga bagi siapa saja yang membaca dan pernah mengalami cobaan seperti ini akan menjadi tegar dalam menghadapi….

    Jadi tidak sabar nih menunggu terbitan bukunya…..semoga target lanuching 13 September berjalan dengan lancar… amin.

  9. eshape Says:

    Salam Pak Rui-JM

    Senang membaca komentar bapak. Kalau bapak teruskan ada kisah dalam blog ini yang saya ambil dari cerita bapak saat di MMC1.

    Yang mana tuh?

    Anggota MMC1 pasti tahu, meskipun sudah dirombak disana-sini

    Salam

  10. riri Says:

    Terharu bacanya…sukses selalu mas eshape

    wassalam,

  11. Peluncuran Buku “Pak Dhe NgeBloG” « PoJoK YoGyA (lagi) Says:

    […] Buku “Pak Dhe NgeBloG” Lompat ke Komentar Setelah lama disembunyikan, akhirnya blog kisahikmah terendus juga oleh para pencari dan akhirnya memang blog itu harus mulai dihidupkan, meskipun saat […]

  12. hilmy Says:

    Bagus critanya, menggugah kita agar selalu tawakal….
    Aku doakan…mudah2an mas Eko sukses selalu….Amien

  13. eshape Says:

    Makasih mas Hilmy atas supportnya

    semoga kita jadi hambaNya yang pandai bersyukur
    amin

  14. syaifuddin sayuti Says:

    mas eko memang seorang pencerita yang hebat. ujaran-ujarannya khas. cerita yang sederhana dan memikat. kalau terbit, saya pasti baca buku ini mas.

  15. eshape Says:

    Salam Mas Din

    Terima kasih supportnya mas,
    insya Allah minggu ini naik cetak dan peluncuran resmi di Resto Samikuring 13 September 2009

    Pra Launching ada di bandung, rencananya akan diselenggarakan oleh Pak Rawi

  16. Peluncuran Buku “Pak Dhe NgeBloG” « Mastermind Cikarang Says:

    […] Buku “Pak Dhe NgeBloG” Setelah lama disembunyikan, akhirnya blog kisahikmah terendus juga oleh para pencari berita dan akhirnya memang blog itu harus mulai dihidupkan, […]

  17. kadafi Says:

    good luck.

  18. moh.sirat as. Says:

    terima kasih info”Pak Dhe NgeBloG”nya,saya suka kisah-kisah pencerahnya.semoga sukses.amin ya Allah.

  19. yulinda sari Says:

    Thanks, sharingnya……smoga mmbawa hikmah bagi kita smua utk selalu bersyukur padaNya baik dlam kesusahan atau pun dalam kesenangan. Trus berkarya bang smoga Allah merahmatimu dan mempermudah semuanya, amiin…..

  20. rudiesape Says:

    Bagus, Mas
    Salam

  21. nur ichsan Says:

    hidup blogger indonesia…

  22. Boby Satya Says:

    Assalamu’alaikum Pak Dhe,

    Selamat ya… AlhamduLILLAH sudah terbit bukunya, semoga bisa
    memberikan pencerahan baru bagi umat…

    Saya saran, bagaimana jika Pak Dhe mengusulkan ke Panitia Alumnae
    Day ESQ untuk membuat sessi khusus bedah buku/cerita tentang buku baru Pak Dhe… InsyaALLAH akan menarik perhatian para Alumni…

    Terima Kasih dan TETAP SEMANGAT!!!

    Boby Satya – Alumni ESQ
    HP: 0813-155.24.604 atau 021-9978.4968

  23. Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Peluncuran Buku “Pak Dhe NgebloG”, 13 September 2009 Says:

    […] lama disembunyikan, akhirnya blog kisahikmah terendus juga oleh para pencari dan akhirnya memang blog itu harus mulai dihidupkan, meskipun saat […]

  24. MMohd Fauzi Bin Othman Says:

    SSalam,
    b
    BBegitu mendalam dan mengingatkan kita selalu akan syukur pada apa yyang ada atau kita miliki.

    TTerimakasih atas ilmunya..semuga Allah memberkahi amalannya.
    S
    SSalam 165.

  25. denia Says:

    this story is so sad..T.T But when Allah speak,theres nothing say Nothing.. tHen Believe It..^_^

  26. idham Says:

    Masya Allah. Allah pilih hamba-hambanya untuk menikmati halawah iman dan haqqul yakin.

  27. Mug Cantik « Dari "Kaca Mata"-ku Says:

    […] Eko, tokohnya nanti tetap pak Dhe, tetapi kemasannya dibuat lebih […]

  28. Jembatan Penyeberangan di Pagi hari « Dari "Kaca Mata"-ku Says:

    […] Lalu, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan? […]

  29. trihandoko Says:

    na,am soheh , jayyid ceritanya ,,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: