Solusi Pak Dhe [4]

“Kita tidak bisa menunggu Obama ngomong dulu, baru bergerak pak Dhe. Ini sudah sangat darurat. Tidak bisa ditunda-tunda lagi”, begitu kata Andre berapi-api pada Pak Dhe.

“Tidak bisa. Kita perlu memastikan dulu pendapat Obama tentang masalah Palestina. Selain itu kita juga perlu tahu apa yang dibutuhkan Palestina saat ini”, sergah Khalid sebelum pak Dhe menjawab pernyataan Andre.

“Lho apa belum cukup jelas. Tidakkah mas Khalid merasakan betapa bergetarnya bumi Allah ini di hari Jumat kemarin. Hampir semua masjid melantunkan doa qunut dan setelah itu setiap saat, setiap waktu doa-doa umat Islam makin bertambah dan terus bertambah, sehingga bumi dan isinya ini makin bergetar oleh lantunan doa kita?”

“Sabar…sabar mas Andre dan mas Khalid. Kita kesini kan mau diskusi sama pak Dhe. Lha kok malah berantem sendiri sebelum pak Dhe sempat berkomentar”, Udin mencoba menengahi.

Seperti tersadar dari mimpi buruk, Andre dan Khalid sama-sama beristighfar. Merekapun bersalaman dan seperti hampir menangis ketika akhirnya salaman itu berubah menjadi pelukan persaudaraan.

“Yuk.. siapa yang mau bercerita duluan”, pak Dhe mencairkan suasana dengan tawaran berbicara duluan.

Udinpun dengan lancar menceritakan hasil pertemuan mereka dengan pimpinan pabrik.

Intinya mereka ingin ikut demo dan bila memungkinkan minta ijin untuk ikut menjadi relawan dan berjihad ke Palestina, sementara sebagian dari mereka ternyata lebih memilih megirim doa saja dan tetap bekerja di pabrik.

Awalnya, sebenarnya mereka hanya ingin minta ijin untuk melakukan demo saja, tetapi ketika pimpinan pabrik meperbolehkan mereka, maka diskusi tersebut melebar sampai ke jihad ke palestina.

Akhirnya terbentuk dua kubu yang sama-sama ngotot mempertahankan argumentasinya. Sampai pimpinan pabrik meninggalkan ruang diskusi, mereka masih belum sepakat, sehingga terpikir oleh mereka untuk melakukan diskusi di mushola saja, biasanya ada pak Dhe yang suka memberi solusi.

Kelompok yang ingin menjadi relawan ini begitu ngotot ingin menyelesaikan masalah ini pada hari ini juga.

“Pak Dhe, Palestina sudah lelah. Mereka perlu suntikan tenaga kita”, begitu kata Andre ketika pak Dhe memintanya untuk berbicara.

“Sebentar lagi demo akan makin merebak dan membuat para pimpinan negara Islam berubah pendiriannya. Mereka yang tadinya ragu-ragu membantu Palestina akan berubah menjadi sangat mendukung. Kitapun ramai-ramai memboikot Israel, Amerika dan sekutunya. habislah Israel dan sekutunya pak Dhe. Itu tidak lama lagi”,kata Andre yakin.

“Dan kita ingin ikut menjadi saksi peritiwa itu langsung di Palestina!”

“Darimana kamu dapat “wangsit” itu Ndre?”, kata pak Dhe sambil tersenyum sabar.

“Pak Dhe inget firman Allah di katab Allah?”, kata Andre

“Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah beserta orang orang yang sabar (istiqomah).” kata Khalid.

“Nah, kami yakin pertolongan Allah segera tiba. Yang penting dukungan kita dengan doa agar rakyat Palestina sabar”, tambah Andre.

“Hmmm jadi sebenarnya dimana yang dipertentangkan antara kalain?”, kata pak Dhe.

“Kelihatannya kalian saling mendukung. Yang mau pergi ke Palestina kita hormati dan kita dukung agar niatnya tulus ikhlas dan diterima Allah swt. Yang pingin kirim doa saja, karena mempunyai kendala untuk menjadi relawan ke Palestina, silahkan kirim doa sebanyak-banyaknya”

“Yang penting adalah yang ada di hati kalian. Suara hati itulah yang perlu dibaca dengan baik dan diterjemahkan dalam tindakan yang baik dan benar”

“Lihat kemampuan diri kalian, lihat kendala yang ada, lihat manfaat dan mudaratnya kemudian tetapkan tekad untuk melakukan yang kalian mampu dengan ikhlas”

Andre, Udin dan Khalid saling berpandangan. Mereka bingung sendiri, mengapa di ruang rapat pabrik mereka begitu kukuh dengan pendiriannya dan saling menegangkan urat leher ketika beradu pendapat, sementara menurut pak Dhe tidak ada perbedaan di antara mereka.

“Udah mau Dhuhur pak Dhe. Kunci mikenya dimana ya?”, kata Amir memecahkan kebisuan diskusi.

Siang itu merekapun sholat dengan doa yang lebih panjang dibanding biasanya. Semoga rakyat Palestina tetap menjadikan sabar dan sholat sebagai penolongnya. Sesungguhnya pertolongan itu akan segera datang bila memang sudah tiba masanya.

Insya Allah, Tuhan mempercepat pertolonganNya.

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: