Pak Dhe : Rejeki Halal [9]

“Horeee…. aku dapet seribu lagi…”, suara Ajiz menyambut kedatangan pak Dhe

“Hahahahaha….. apa lagi ini?”, tergelak pak Dhe menerima pelukan dari Ajiz, ponakannya yang lucu dan imut-imut.

“Iya pak Dhe, aku tadi siang dapet seribu lagi dari penggemarku..”, suara bening Ajiz begitu nyaman di telinga pak Dhe.

“Ayo, coba ceritain gimana dapet duitnya”, sambil menurunkan Ajiz dari bopongan pak Dhe mengajak Ajiz ke ruang tamu.

“Yang pertama, Ajiz sudah pastikan kalau ini halal!”, Ajiz mulai bercerita dengan semangat.

“Lalu?”

“Nah, tadi siang, saat istirahat sekolah, aku menggambar cerita di buku tulisku. Kawan-kawanku juga ikut nggambar di buku masing-masing”

“Terus…”

“Nah, akhirnya kawan-kawanku kehabisan ide. Kemudian mereka mendekatiku dan melihat gambar-gambar yang kubuat di buku tulisku”

“….”

“Nah, Lutfi minta aku gambar lagi yang lain. Akupun menawarkan pada Lutfi, gambar apa yang dia mau, kemudian kugambar permintaannya. Eh habis itu dia ngasih aku uang seribu”

“Terus….?”

“Ya kupakai jajan uang itu. Habis aku lapar banget dan gak bawa uang jajan”

Pak Dhe tertawa terpingkal-pingkal ketika Ajiz menunjukkan gambar-gambar di buku tulisnya. Gambar-gambar yang tidak beraturan letak dan bentuknya itu, ternyata ketika “dibaca” oleh Ajiz menjadi suatu rangkaian cerita yang sangat menarik.

Itu adalah cerita gambaran kejadian sehar-hari dengan tambahan fantasi yang diambil dari film ataupun TV.

“Pak Dhe… Nanti kalau pemilihan capres, pak Dhe milih siapa?”

Halah…

Ini lagi. Anak kecil kok sudah mikir pemilu. Darimana mereka pada kesengsem dengan Pemilu. Mengapa sih iklan pemilu ada dimana-mana, sehingga yang tidak dibidikpun ikut terbawa dalam arus pemilu ini.

“Pak Dhe milih yang paling baik nak”

“Siapa yang paling baik, pak Dhe?”

“Tuhan..!”

Ajiz memukul pundak pak Dhe yang ngeloyor menuju kamar mandi.

Saat menutup pintu kamar mandi, masih sempat pak Dhe mendengar suara Ajiz.

“Besok minta uang jajan sekolah ya pak Dhe. Biar kalau dapet duit lagi, bisa dimasukkan ke infak”

Sambil mengguyurkan air di tubuhnya, pak Dhe asyik melamun.

Ternyata masalah halal sudah menjadi dasar semua kegiatan yang dilakukan oleh Ajiz. Ini persis yang disampaikan oleh kawannya beberapa hari lalu. Pak Muslim, kawan pak Dhe itu, dengan tegas menolak adanya uang suap dalam bisnisnya.

Risiko kehilangan order sudah disiapkan pak Muslim karena tidak adanya “uang suap” dalam melicinkan order yang dia terima.

Yang meminta uang suap juga sangat menyesalkan sikap pak Muslim. Uang suap yang hanya beberapa ratus ribu rupiah sangat tidak sebanding dengan nilai orderan yang ratusan juta rupiah, tapi ternyata pak Muslim tetap “kekeh”, teguh dengan pendiriannya.

Ada suap, bisnis putus, tak ada uang suap, mari kita lanjutkan [bukan lanutan].

Ternyata orderan yang diproses pak Muslim sukses. Yang meminta uang suap dari pak Muslim agaknya terkesan dengan sikap pak Muslim dan terus memproses orderan itu.

Di akhir proses transaksi, pak Muslim menyumbang dana pembangunan fasum di tempat sang peminta uang suap dengan jumlah yang berlipat-lipat dibanding jumlah uang suap.

Merekapun saling berpelukan, mensyukuri pertemanan yang hampir saja hilang gara-gara uang suap.

Tag: , , ,

3 Tanggapan to “Pak Dhe : Rejeki Halal [9]”

  1. Resep Awet MUda Pak Umar « Kisah Hikmah Says:

    […] artikel [tidak] terkait Rejeki Halal Pak Dhe milih Dedi Dongeng Pak […]

  2. Resep Awet Muda : Jangan Pingin Awet Muda « PoJoK YoGyA (lagi) Says:

    […] artikel [tidak] terkait Rejeki Halal Pak Dhe milih Dedi Dongeng Pak […]

  3. yenieshape Says:

    Indahnya hidup ini jika karya kita dihargai orang lain, meski dengan nilai tak seberapa. Rezki yang halal senantiasa menghadirkan kesejukan di jiwa dan melapangkan kekayaan hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: