Pilihan Pak Dhe [5]

Rusdi membolak balik halaman brosur ponsel black berry di tangannya. Rasanya semua tulisan yang ada sudah dibacanya semua, tetapi masih juga dia baca kembali.

“Jadi kau beli BB Rus?”, kata Khalid akhirnya memecah kesunyian di lobby hotel GM.

“Iya Bang, kayaknya aku harus beli deh. Cuma aku memang masih ada satu kendala..”

“Hmm…”, Khalid menunggu Rusdi melanjutkan ucapannya yang seperti sengaja dihentikannya, sambil kembali membolak balik brosur di tangannya.

“Aku harus bilang apa sama istriku. Dia pasti menanyakan dari mana aku dapat uang untuk beli BB ini”, lanjut Rusdi

“Kan pak Dhe yang ngasih. Jadi buat apa dirisaukan. Istrimu juga kenal pak Dhe dengan baik. Istrimu juga tahu, pak Dhe paling sayang sama kamu dibanding aku ataupun Udin”

“Disitulah masalahnya Bang”, kata Rusdi

“Lho dimana masalahnya?”

“Mana mungkin istriku percaya kalau pak Dhe ngasih aku uang untuk beli BB. Darimana pak Dhe punya uang untuk beli BB, sangat tidak masuk akal Bang”

“Pak Dhe kan hanya satpam, mana mungkin dia punya uang untuk beli BB. Pasti istriku jadi curiga Bang. Belum lagi kalau aku jadi punya BB, darimana aku harus beli pulsa untuk berlangganan”

“Emang gimana sih cerita sebenarnya?”, Khalid jadi

Rusdipun mulai ceritanya.

Tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba Rusdi didatangi pak Dhe dan diajak ikut pertemuan di hotel GM. Disana akan ada orang jual hape BB dan pak Dhe akan beli satu biji, kemudian pak Dhe minta Rusdi yang milih jenis hapenya, karena hape itu nantinya memang akan dipakai Rusdi artinya dihadiahkan ke Rusdi.

“Nah, apa ada orang percaya dengan cerita ini Bang?”

Khalidpun jadi makin bingung. tak tahu harus memberi saran apa lagi. Ketika dia tadi ketemu Rusdi di hotel ini saja dia udah bingung, ternyata Khalid kemudian semakin bingung dengan cerita yang disampaikan Rusdi.

“Hei… ada Khalid disini. Asslamu’alaikum..”

Khalid dan Rusdi kaget, ketika tiba-tiba pak Dhe muncul dan langsung menyapa dengan gaya khasnya. Senyum yang tak pernah bisa lepas dari bibirnya.

Rusdi makin kaget, karena di belakang pak Dhe terlihat pak Anton yang menenteng sebuah tas, juga dengan senyum khasnya.

Anton meletakkan tas bawaannya dan kemudian menyalami Rusdi dan Khalid.

“Sudah lama mas Rusdi?”, sapa Anton hangat.

Terbata-bata Rusdi menjabat tangan Anton, sambil menjawab sekenanya,”Sudah pak..eh baru saja, belum lama pak”

Bukan Anton kalau tidak bisa membuat suasana kaku Rusdi menjadi suasana yang cair. Langsung saja Anton memimpin obrolan di lobby itu dengan gaya khasnya.

Pandangan mata yang penuh persahabatan dan tepukan di pundak Rusdi membuat kebekuan Rusdi hilang begitu saja.

“Nah, begini Rus. Ehem..hmm..hmmm”, sedikit terbatuk-batuk pak Dhe gantian memulai pembicaraannya.

“Sudah saatnya kamu punya ponsel yang cerdas dan karena mulai minggu depan kamu akan dipindah ke bagian IT di kantor yang lain, maka malam ini marilah kita syukuri kenaikan jabatanmu itu”

Rusdi sampai terlongong-longong mendengar ucapan pak Dhe. Isu itu ternyata benar adanya. Selama ini dia tidak pernah bermimpi akan menjadi kepala bagian IT, apalagi di kantor induk yang lebih bonafide.

Selama ini Rusdi bekerja sesuai apa yang harus dikerjakannya, namun Rusdi selalu siap untuk membantu bagian lain, meskipun itu bukan bagian dari tugasnya. Rusdi selalu memberi lebih dari yang seharusnya dia berikan.

Semua tugas, apapun itu, selama dia sanggup mengerjakannya, selalu dia selesaikan di hari-hari kerjanya. Rusdi tak suka kerja lembur namun semua pekerjaan sesulit apapun ternyata dapat diselesaikannya di hari kerjanya.

Anton, Kepala Pabrik tempat Rusdi bekerja, mengulurkan tangannya, menyalami Rusdi yang masih terlihat kebingungan.

“Kita akan berpisah, tapi kita masih satu perusahaan, jadimasih ada saat bertemu. Ini hanya hadiah kecil dariku. Sengaja pak Dhe memilih tempat ini agar cocok dengan hadiah yang kuberikan”

Tas berisi ponsel BB itupun berpindah ke tangan Rusdi.

“Ini pasti jadi hari yang aneh bagimu, tapi itulah ide Sinta, istrimu sendiri”, tergelak pak Dhe ketika mengucapkan kalimat ini.

“Dasar istrimu itu tergila-gila dengan acara tivi, jadi ketika tahu rencana ini, maka idenya langsung jalan”

“Nah, masih ada lagi yang mau ditanyakan Rus?”, Anton mengakhiri tertawanya dan mengajak Rusdi meninggalkan lobby hotel.

“Kenapa pak Dhe memilih pertemuan di hotel ini pak? Biasanya pak Dhe kan kalau mengadakan syukuran selalu di mushola atau paling jauh di warung kepala kambing Bang Khalid”

“Kamu itu sudah dibilang ini idenya Sinta kok, pak Dhe hanya memilih orang yang tepat tapi soal tempat itu pilihan istrimu”

Rusdi makin terpaku tak bisa bicara ketika meninggalkan lobby dan masuk ke cafe, ternyata semua teman di pabrik sudah nungguin di ruangan itu.

“Hepi berde tuyu bang Tusdi”, Udin memulai ucpaan ulang tahun buat Rusdi dilanjutkan semua kawan-kawannya.

Ucapan ultah terakhir diterima Rusdi dari istrinya. Rapat erat Rusdi memeluk istrinya, seolah ingin menumpahkan semua perasaan yang telah mengharu birukan dirinya sepanjang beberapa jam ini.

Dengan lembut istrinya berbisik di telinga Rusdi,”Teman-temanmu belum pernah ke cafe ini, mereka selalu mimpi-mimpi untuk makan disini, jadi jangan lupa bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada pak Dhe yang telah memilihkan semua ini untukmu Bang”

Pertanyaan kembali muncul di benak Rusdi,”Sebenarnya yang memilihkan acara ini siapa sih…?”

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: