Act naturally [18]

Kabar meninggalnya Pak Sastro bener-bener mengejutkan. bagaimana tidak, rasanya beliau masih belum tua untuk dipanggil Tuhan, tapi kok yang terjadi berbeda dengan yang biasa terjadi.

Beberapa kali pak Dhe memang menjumpai pak Sastro terlihat masgul, dan kalau sudah begitu wajah pak Sastro yang biasanya cerah ceria terlihat menjadi lebih tua dari umurnya.

Biasanya hal itu terjadi ketika pak Dhe mengambil jemuran rumah di halaman belakang dan pak Sastro sedang duduk-duduk juga di halaman belakang rumahnya.

Gerakan pak Dhe yang biasanya tanpa suara membuat lamunan pak Sastro sering tak terganggu. Kadang terlihat pak Sastro menghela nafas panjang, sehinga pak Dhe segan untuk menyapanya, meski begitu kadang-kadang pak Dhe mengagetkan juga pak Sastro dengan sebuah tepukan di pundak.

Kalau sudah begitu, maka merekapun langsung terlibat dalam percakapan yang penuh senda gurau, penuh dengan canda tawa. Memang pak Sastro ini adalah salah satu pelawak yang terkenal di kota ini.

Meski honor lawakannya sudah tujuh digit, tetapi pak Sastro tetap memilih tinggal di kampung. Jauh dari kehidupan hingar bingar yang biasa dihinggapi oleh kaum selebritis lainnya.

Akibatnya justru rumah Pak Sastro yang jadi sering ramai dikunjungi kalau pas dia ada di rumahnya.

Beberapa minggu lalu, pak Dhe didatangi oleh seorang wanita cantik yang mengaku sebagai dokter pribadi pak Sastro. Pembicaraan selanjutnya ternyata Siska, nama wanita itu bukan dokter dalam bidang jasmani, tetapi lebih ke arah dokter rohani.

Setiap minggu selalu saja ada waktu bertemu antara pak Sastro dan Siska. Tetangga-tetangga malah punya isu tersendiri untuk yang satu ini.

Hal ini wajar terjadi, karena memang Pak Sastro hanya tinggal sendirian dalam rumahnya, sehingga gunjingan itu makin kuat saja.

Hanya pak Dhe yang tetap berprasangka baik dengan pak Sastro. Meskipun pak Dhe juga memendam banyak tanda tanya terhadap kehidupan pak Sastro.

Bagaimana seorang yang kaya raya seperti pak Sastro, ternyata hanya bisa tinggal sendiri dan tabu untuk bicara tentang istri ataupun anak, suatu hal yang biasanya hanya terjadi kalau ada luka di hubungan keluarga pak Sastro.

Pak Dhepun akhirnya tahu, kalau ternyata rambut asli pak Sastro sudah putih dan selalu disemir agar terlihat hitam legam.

Pak Sastro meskipun tinggal di belakang rumah pak Dhe tetap menjadi misteri sampai akhir hayatnya.

Minggu pagi ini, ketika pak Dhe sedang duduk-duduk di teras mini rumahnya,terlihat Siska membuka pagar dan mengucapkan salam.

Pak Dhe langsung beranjak menyambut Siska dan mempersilahkan duduk di teras. Bu Dhe sedang pergi, sehingga pak Dhe tidak mau mengajak Siska masuk ke ruang tamunya.

“Ada apa nih mbak Siska, kok tumben Minggu-minggu nggak jalan-jalan malah main ke rumah kampungan”

Siska tersenyum manis, membuat pak Dhe jadi ingat Santi yang juga secantik Siska. Itulah nama anaknya yang sekarang “mondok” di pesantren Gontor.

“Mau menyampaikan surat pak De”

“Lho surat apa mbak?”

“Kebetulan aku yang kenal dengan pak De, jadi aku yang diminta menyampaikan surat ini”

“Lha surat apa ini mbak?”

“Itu surat wasiat dari pak Sastro untuk pak Delianto. Itu nama pak De kan?”

Pak Dhe jadi ingat saat acara pemakaman yang terganggu oleh ulah para kerabat pak Sastro yang terlihat saling berebut untuk memposisikan diri sebagai keluarga paling dekat.

Kabar yang merebak memang membuat pak Dhe tidak ingin mendengarnya dua kali. Kerabat pak Sastro yang saling bermusuhan, demikian juga ternyata anak-istri pak Sastro yang tidak akur di antara mereka.

Intinya adalah perebutan warisan yang tidak ada penyelesaiannya, sehingga memerlukan pihak ketiga untuk menjadi perantara penyelesaian sengketa mereka.

Yang lebih mengejutkan pak Dhe adalah penyebab meinggalnya pak Sastro.

“Begitulah pak De, pak Sastro meninggal karena kehidupannya yang kering. Dia perlu banyak tertawa, bergembira dan kegiatan fun yang lainnya. Dia terlalu sedikit tertawa dalam hidupnya”

Bagaimana mungkin seorang pelawak terkenal harus meninggal karena kurang tertawa. Sungguh ironis.

Bersama Siska, pak Dhe membuka surat wasiat pak Sastro. Beberapa kalimat tak dibaca dengan teliti, pak Dhe hanya mendengar kalimat yang dibaca dengan pelan-pelan oleh Siska.

“…..semua tanah …….. diwakafkan ke badan wakaf dan akan diurus oleh ustadz Syamsul ….. separuh kekayaan berupa tabungan ….. disumbangkan ke panti jompo ……”

Nama panti jompo yang disebut Siska rasanya pak Dhe kenal betul, itulah panti jompo tempat ibunda pak Sastro ditempatkan.

Itulah barangkali amal terbaik pak Sastro selama ini terhadap ibundanya yang diakui pak Sastro kurang diperhatikan dengan baik.

Inikah karma?

Inikah yang membuat pak Sastro susah tertawa sepanjang hidupnya?
Inikah yang membuat pak Sastro susah membentuk keluarga yang sakinah mawadah warohmah?

Pak Dhe mencoba berbaik sangka saja.

Alhamdulillah, pak Sastro di akhir kehidupannya masih ingat untuk beramal bagi semua yang dicintainya.

Semoga semua amalnya dietrima di sisiNya. Amin

Sayup-sayup pak Dhe mendengar sebuah lagu yang sering disetel oleh pak Sastro.

+++

They’re gonna put me in the movies.
They’re gonna make a big star out of me.
We’ll make a film about a man that’s sad and lonely
And all I gotta do is act naturally.

Well, I bet you I’m gonna be a big star.
Might win an Oscar. You can never tell.
The movie’s gonna make me a big star,
‘Cause I can play the part so well.

Well, I hope you come and see me in the movies.
Then I’ll know that you will plainly see
The biggest fool that ever hit the big time
And all I gotta do is act naturally.

We’ll make the scene about a man that’s sad and lonely
And begging down upon his bendin’ knee.
I’ll play the part and I won’t need rehearsing.
All I have to do is act naturally.

Well, I bet you I’m gonna be a big star.
Might win an Oscar. You can never tell.
The movie’s gonna make me a big star,
‘Cause I can play the part so well.

Well, I hope you come and see me in the movies.
Then I’ll know that you will plainly see
The biggest fool that ever hit the big time
And all I gotta do is act naturally.

+++
cerita ini diilhami oleh sebuah cerpen rusia yang kubaca pada tahun 70an dan sebuah lagu dari The Beatles

.

Tag: , , , ,

Satu Tanggapan to “Act naturally [18]”

  1. yenieshape Says:

    cerita yang bagus buat bercermin tentang kehidupan. Dan setiap kita menanam, suatu saat kita akan menuainya. Jadi sebisa mungkin kita tanam hal-hal yang baik dalam hidup ini, kelak kebaikan pula yang kita peroleh.Jika tidak di dunia fana ini, di alam sesudahnya nanti akan kita dapatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: