Kebo Nusu Gugel [17]

Udara pagi yang sejuk segar memenuhi rongga dada Andra dan dihirupnya dalam-dalam agar dapat terasakan nikmat Tuhan di awal hari ini.

“Semoga hari ini kembali menjadi hari terbaik buatku. Insya Allah. Amin”

Andra melangkah ke halaman belakang rumahnya dan melakukan peregangan ringan sebelum dilanjut dengan senam pernafasan.

Senam ini adalah ajaran pak Dhe ketika Andra masih kecil dan bercita-cita jadi pendekar besar. Waktu itu, Pak Dhe adalah guru silat di kampungnya dan cerita pak Dhe tentang petualangan para pendekar di jaman dulu membuat sosok pak Dhe begitu menjadi idola Andra.

Rasanya pak Dhe adalah guru pendekar besar itu dan Andra adalah calon pendekar besar, seperti yang selalu diceritakan dalam dongeng-dongeng pak Dhe.

“Tarik nafas pelan dan panjang…..tahan… hitung delapan kali… lepaskan melalui mulut…pelan-pelan… hitung lagi delapan kali….tarik nafas pelan……”

Tersenyum Andra kalau ingat masa-masa kecilnya bersama pak Dhe. Setiap melihat pak Dhe, selalu saja dia langsung mendekati dan berdiri di dekat pak Dhe, mendengarkan apapun yang diucapkan pak Dhe.

Andra juga masih inget ketika pak Dhe bercerita dengan kelompok gaulnya di pos ronda dan Andra duduk di luar pos ronda. Waktu itu temanya adalah mencuri mangga di rumah Wak Bima. Pak Dhe dan teman-temannya itu saling bersahutan menceritakan proses pencurian mangga itu, saat mereka ronda malam dan melewati rumah Wak Bima.

Esoknya, sepulang dari masjid Andra mendekati pak Dhe dan bertanya tentang peristiwa pencurian mangga itu.

Saat itu juga, Andra melihat pak Dhe menghentikan langkahnya dan memegang kedua bahu Andra.

Pak Dhe menatap Andra lama dan kemudian mengendongnya, mengantarnya pulang sampai di depan rumah dan kemudian mengelus kepalanya sebelum melangkah ke arah rumahnya.

Sorenya, saat bertemu di masjid pak Dhe mendekatinya dengan senyum khasnya dan kembali mengelus kepalanya.

“Ndra, kamu pernah baca tulisan di kaos muslimart?”

“Apaan pak Dhe?”

Kebo nusu gugel

“Apa itu pak Dhe? Kebo itu apaan, kok ada gugel, emangnya software baru ya?”

“Kalimat aslinya adalah, kerbau yang menyusu pada anak kerbau. Bahasa Jawanya kebo nusu gudel, tapi diplesetkan menjadi kebo nusu Google”, pak Dhe terkekeh-kekeh melihat andra yang waktu itu hanya bisa tersenyum saja. Maklum dia belum paham bahasa Jawa.

“Tadi pagi aku telah belajar ilmu ikhlas pada seorang anak kecil dan anak kecil itu adalah kamu Ndra. Makasih ya…”

“Maksud pak Dhe apa. Belajar apa pak Dhe?”

“Beberapa hari lalu, ketika kita mencuri mangga saat ronda, waktu itu yang kita pikirkan adalah membalas kekikiran Wak Bima karena tidak memberikan mangga masak pada kami, padahal kami telah membantu wak Bima mengepel lantai, membersihkan toilet, dll”

“Tadi pagi baru kusadari, bahwa tindakan itu tetap tidak bisa dibenarkan. Iya kan?”

Kenangan diskusi di masjid itu sampai sekarang masih membekas di hati Andra dan rasanya tidak akan pernah hilang.

Bagaimana Andra tidak bangga, seorang yang sangat dihormati oleh orang-orang di kampungnya menyatakan bahwa dia telah belajar padanya.

“Mas…kesini sebentar mas..”, sebuah teriakan kecil membuyarkan lamunan Andra.

Berjlari kecil, Andra masuk rumah dan mendapati istrinya sedang memegang perutnya dengan meringis.

Andra langsung tanggap, segera diambil kunci mobilnya dan langsung dibimbingnya istri tercinta ke dalam mobil.

“Semoga ini adalah hari bersejarah buat kelahiran anakku. Semoga dia lebih baik dari pak Dhe, lebih baik dari orang tuanya dan dapat menyontoh pribadi mulia dari Muhammad rasulullah. Amin”

Gambar diambil dari MuslimArT

Tag: , , ,

2 Tanggapan to “Kebo Nusu Gugel [17]”

  1. yenieshape Says:

    Belajar memang wajib bagi semua orang, dimanapun, kapanpun dan pada siapapun. Belajar dengan modal rendah hati dan kejujuran, adalah sikap mulia dan ilmu lebih mudah dicerna tentunya.

  2. Sore hari di Bekasi | bloggerbekasi.com Says:

    […] bijak, persis seperti ucapan ustadz yang sering kuliah subuh sehabis sholat subuh. Aku jadi kayak “kebo nusu Gugel” […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: