Pak Dhe naik Haji [15]

Pak Dhe mengerjab-ngerjabkan matanya yang panas. Air mata bahagia itu masih ingin mengalir, tapi terus ditahannya. Sementara itu, orang terus berdatangan di rumah pak Dhe untuk mengucapkan selamat atas niat pak Dhe yang ingin bepergian ke tanah suci.

Di salah satu sudut ruangan, Ustadz Syamsul nampak senyum-senyum terus melihat pak Dhe yang matanya terus berkaca-kaca. Disamping pak Dhe, bu Dhe sudah dari tadi terus mengusap matanya yang terus dipenuhi air mata bahagia.

Semuanya benar-benar seperti mimpi. Bagaimana mungkin mereka berdua bisa menerima kejadian ini. Pergi ke tanah suci adalah impian yang sudah lama dikubur dalam-dalam dan hari ini ternyata mimpi itu benar-benar sudah menjadi kenyataan.

Pak Dhe dan bu Dhe masih ingat, dua tahun lalu mereka diajak ke BANK oleh ustadz Syamsul. Waktu itu mereka hanya menurut saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya, karena mereka memang tidak tahu apa yang akan dilakukan pak Ustadz.

“Pak Dhe, usulan pak Dhe tentang perbaikan proses di pabrik ternyata mendatangkan keuntungan bagi pabrik dan karena pak Dhe tidak mau menerima cindera mata dari pabrik, maka pak Hasan mohon pak Dhe mau menerima hadiah buku tabungan dari BANK ini”, begitu ucapan pak Syamsul lembut ketika mereka memasuki BANK itu.

Tentu begitu mendengar kata-kata Ustadz Suyamsul, pak Dhe langsung berhenti dan menolak untuk masuk BANK.

“Pak Syamsul, sebaiknya ustadz serahkan saja buku BANK itu pada mereka yang berhak. Ini kan bukan hasil kerjaku, tapi hasil kerja kelompok produksi di jalur A. AKu hanya kebetulan lewat dan berdiskusi dengan mereka”

“Itulah masalahnya pak Dhe, mereka juga tidak mau terima bonus, kalau mereka belum melihat buku tabungan pak Dhe di BANK ini. Ini buku tabungan haji, jadi pak Dhe tidak bisa mengambil uang ini, pak Dhe hanya bisa memegang bku ini dan hanya berhak pergi ke tanah suci bila jumlah tabungan ini telah memenuhi jumlah yang disyaratkan”.

“Kalau aku tidak menambah duit di tabungan ini, apa yang tejadi?”

“Kok jadi detil begini pak Dhe. Marilah kita mudahkan urusan ini saja. Pak Dhe kan sudah sering memudahkan urusan orang, jadi mari kita ambil mudahnya saja. Pak Dhe pikirkan saja betapa bahagianya teman-teman pak Dhe di bagian produksi jalur A. Mereka sendiri akan mempunyai dua kebahagiaan, satu bahagia melihat pak Dhe bisa punya buku tabungan dan kedua, bahagia karena mereka segera menerima bonus yang akan mereka nikmati bersama keluarga mereka”

Begitulah, akhirnya pak Dhepun masuk ke BANK dan kemudian membubuhkan tanda tangannya di buku tabungan Haji atas namanya dan istrinya.

Minggu lalu, dengan senyum simpul khasnya, Ustadz Syamsul datang ke rumah pak Dhe dan menyampaikan bahwa tahun ini pak Dhe sudah pasti naik haji. Semua sudah beres di urus. Tentu pak Dhe tidak percaya dengan kata-kata ustadz Syamsul. Darimana duit sebanyak itu bisa begitu saja masuk ke rekeningnya dan membuat tabungan hajinya tahu-tahu sudah mencukupi untuk naik haji?

Memang pada bulan-bulan belakangan ini, beberapa kali ustadz mayakinkan pak Dhe untuk siap-siap naik haji. Beberapa formulir disampaikan ke pak Dhe dan dengan enteng pak Dhe membubuhkan tanda tangannya, karena pak Dhe mengangap ini sebagai hiburan untuk menyenang-nyenangkan ustadz Syamsul, yang luar biasa baiknya terhadap jamaah masjidnya.

Bahkan acara kumpul-kumpul di rumah ini juga semua atas prakarsa ustadz Syamsul dan tentu saja karena woro-woro dari Udin yang begitu antusias menyambut kepastian perginya pak Dhe ke tanah suci.

Tamu yang tak terduga tentu adalah Andra [and the Backbone?], tamu jauh yang sering malam-malam menelpon ke nomor flexi pak Dhe sekedar untuk ngobrol ngalor ngidul, meskipun kebanyakan selalu memilih topik pelayanan suami pada istri yang selalu ingin ditingkatkan oleh Andra.

“Sekarang saatnya pak Dhe bercerita, bagaimana bisa begitu rapat menyembunyikan niat haji dan bagaimana pak Dhe bisa menabung dengan begitu gencar, sehingga dalam hitungan dua tahun saja sudah bisa langsung naik haji”, begitu suara Khalid ketika meminta para hadirin untuk sejenak memperhatikan pak Dhe yang duduk di tengah ruangan.

Bukannya pak Dhe yang mulai berbicara, tapi ustadz Syamsul yang berbicara, dengan mimik khasnya yang lucu banget.

“Pak Dhe gak tidak bisa cerita Bang Khalid. Kita minta saja mas Perko untuk maju dan bercerita”

Yang dipanggil pak Ustadz Syamsul adalah pemilik resto Perko yang luar biasa larisnya, bahkan dalam waktu yang sangat singkat sudah berhasil membuka cabang di seantero nusantara ini. Mas Perkopun langsung memulai ceritanya.

“Para hadirin, tentu masih ingat beberapa tahun lalu AMrin ini hanyalah penjual bakmi lesehan yang tidak jelas laku atau tidaknya”

Hadirin terlihat mengiyakan, karena memang beberapa tahun lalu AMrin atau sering dipanggil mas Perko adalah penjual mie lesehan yang hanya dibeli oleh teman-temannya saja. Karena rasanya yang kurang stabil, kadang enak dan kadang tidak enak, maka mie ini kadang laris kadang sepi.

“Suatu saat pak Dhe mampir sepulang dari nonton bola di lapangan kampung sebelah dan makan mie Perko dengan lahap. Kebetulan mienya saat itu sedang enak-enaknya”, lanjut Amrin sambil tersenyum mengingat peritiwa bersejarah itu.

“Pak Dhe bilang dia punya resep mie yang mirip dengan mie yang sedang dia makan dan kemudian kita saling berbagi resep. Ternyata pak Dhe begitu detil merinci resepnya, sehingga AMrin terkesima dan esoknya resep pak Dhe kita praktekkan. Sejak itulah mie lesehan berubah nama menjadi mie PErko dengan rasa mie yang stabil, selalu enak dan lebih enak”

HAdirin masih menduga-nduga arah cerita AMrin, karena terlihat belum jelas benar benang merahnya, antara kesuksesan Amrin dan kepergian pak Dhe ke tanah suci.

“Semua kesuksesan itu karena pak Dhe rajin mengajari Amrin memasak mie yang benar dengan takaran bumbu yang pas. Sayangnya pak Dhe tidak pernah mau menerima royalti dari ilmu yang diajarkan pada AMrin, sehingga AMrin bingung dan sering membalas budi pak Dhe ini dengan memberi bakmi gratis kalau pak Dhe mengadakan acara. COntohnya malam ini, sudah kita siapkan mie yang sebentar lagi akan kita nikmati sama-sama”

Hadirin jadi makin penasaran, benang merahnya malah menjadi makin tidak jelas.

“Waktu terus berjalan dan AMrin mendapat tantangan baru dari pak Dhe untuk buka cabang di tempat lain, kebetulan ada teman Amrin yang ingin buka usaha tapi tidak tahu dalam bentuk usaha yang bagaimana. Nah, Amrinpun pergi ke tempat teman AMrin, tuh orangnya sekarang ada di pojok. Dia lulusan S2 yang bingung mau nyari kerja dan milih jadi penjual mie murah tapi tidak murahan.Ayo mas Totok maju sini donk, Lanjutin cerita Amrin tentang Mie Perko ya”

Hadirin makin penasaran. Benang merah tetap belum kelihatan.

“Makasih mas Amrin, salam buat semua. To the point saja ya. Udah lapar nih”, Totok langsung bercerita tentang perjalanan sukses mie Perko dibawah pimpinan AMrin dan Totok.

Ilmu manajemen Totok yang didapat dengan berdarah-darah ternyata tidak banyak bermanfaat untuk mencari rejeki yang diharapkannya. Justru model waralaba bisnis Mie Perko yang membuatnya menjadi seperti ini.

Dalam waktu beberapa bulan saja Mie Perko telah memberi inspirasi pada semua jaringan AMrin dan Totok. Pertemanan yang begitu luas telah membuat AMrin dan Totok keliling Indonesia untuk memperkenalkan mienya. Bergantian Amrin dan Totok pergi dan selalu memilih pergi di hari libur, karena mereka harus mengajak pak Dhe yang begitu piawai menjelaskan karakter mie yang mereka buat.

“Satu jawaban kunci yang membuat acara ini berlangsung adalah saat pak Dhe diminta untuk menerima royalti ilmunya”, begitu ucap Totok di ujung ceritanya.

“Pak Dhe selalu bilang begini,…jangan kasih aku uang, biarkan saja itu untuk tabungan amalku nanti, insya Allah lebih manfaat. Amin”

“Nah, uang yang kita kumpulkan itu terus bertambah dan atas nasehat ustadz Syamsul, maka semua uang itu kita masukkan ke tabungan Haji pak Dhe”

“Pak Dhe memang tidak pernah minta sesuatu dari kita. Memberi pelajaran cara membuat mie saja sudah membahagiakannya, tapi kita wajib memberi pak Dhe, karena kita sudah terlalu banyak menerima dari pak Dhe. Ini misi yang harus kita jalankan dan ini insya Allah buah dari doa kami berdua saat pergi ke tanah suci tahun lalu”

Udin tersenyum di pojok ruangan sambil memandang Ajiz yang ikut asyik mendengarkan cerita yang saling bersahutan itu.

“Om Udin, jadi kuncinya kita harus selalu memberi ya?”, tanya Ajiz yang disambut senyum dan anggukan Udin.

“Simpan keinginan meminta dalam hati dan selalulah memberi kepada siapapun yang berada di lingkungan kita”, ucapan Totok ini mengakhiri pidatonya.

Udinpun memeluk Ajiz dan berbisik,”Simpan keinginanmu yang aneh-aneh ya. Ingatlah, Keinginan adalah sumber penderitaan”

Sambil ikut memeluk Udin, Ajiz berkata, “Itu lagunya Iwan Fals kan Om?”

Artikel terkait.
Rejeki Halal
Belajar ngeblog
Belum bisa memilih
Merokok [gak] haram ta [?]
Niat Naik Haji

Tag: , , , , ,

Satu Tanggapan to “Pak Dhe naik Haji [15]”

  1. yenieshape Says:

    cerita yang cukup mengharukan. Memberi memang memberikan arti kekayaan sebuah hati. Tentu, memberi disini bukan saja berupa materi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: