Pencak Silat [21]

Pak Dhe tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah polah Ajiz sore ini.

“Pakai sepatu atau pake sandal saja pak Dhe?”, tanya Ajiz sambil memperhatikan pak Dhe yang senyum-senyum terus. Bola mata Ajzi yang bundar dan besar makin membuat pak Dhe tersenyum-senyum.

“Indahnya bola mata anak ini”, demikian pikir pak Dhe.

“Pak Dhe ! Kok gak njawab sih?”, Ajiz kembali bertanya

“Pakai sepatu donk, biar gak kena paku di lapangan”

“Emang ada paku di lapangan?”

“Maksudnya, biar kaki kita aman dari benda-benda tajam, bisa paku bisa duri atau apalah”

Ajiz tersenyum mendengar penjelasan pak Dhe.

Sore ini Ajiz mengajak pak Dhe main bola, soalnya kemarin dia diejek temannya dianggap tidak bisa main bola dan sekarang dia ingin membuktikan bahwa dia bisa main bola, meskipun hanya berduaan dengan pak Dhe.

Ajiz memang anak kecil yang lucu dan selalu polos dalam memandang dunia ini. Mungkin dia ingin main bola dengan teman-teman yang mengejeknya, tetapi dia juga menyadari bahwa badannya yang kecil pasti tidak sebanding dengan badan kawan-kawannya yang besar-besar, jadi dia memutuskan untuk main bola dengan pak Dhe saja, yang dia yakin pasti tidak akan mengejeknya dan tidak akan menyakitinya.

Sehabis sholat Asar berjamaah, mereka berdua berjalan menuju lapangan di ujung kampung. Sebenarnya bukan lapangan bola tetapi hanya tanah kosong kecil yang sering dipakai untuk kegiatan bazar kampung atau lomba 17an.

Ternyata tanah kosong itu sedang dipakai oleh Pak Amrin untuk berlatih pencak silat, jadi pak Dhe dan Ajiz akhirnya terpaksa nonton latihan pencak silat itu dari pinggir lapangan.

Gerakan pencak silat yang penuh seni itu membuat Ajiz terpana. Diikutinya gerakan dari mereka yang berlatih dibawah bimbingan pak Amrin. Badan mereka yang kecil-kecil tidak terlihat lemah bahkan terlihat trampil dan penuh percaya diri.

“Pak Dhe, aku daftarin di pencak silat pak Amrin ya”, tiba-tiba Ajiz bebrisik di telinga pak Dhe.

“Lho sejak kapan kamu pingin silat? Dulu kamu tak ajarin saja nggak mau?”

“Alu pingin jadi Jet Li pak Dhe”

Pas acara “break” latihan, pak Amrin mendatangi pak Dhe dan ngobrol ngalor ngidul, sehingga Ajiz lepas dari pengawasan pak Dhe.

Baru ketika terdengar suara tertawa riuh rendah dari tengah lapangan pak Dhe menyadari bahwa Ajiz sudah tidak ada di sampingnya lagi.

Rupanya Ajiz sedang ikut berlatih silat bersama kawan sebayanya. Gerakan Ajiz yang lucu membuat para penonton terpingkal-pingkal. Pak Dhepun dan Pak Amrin jadi ikut tertawa geli.

“Pak Dhe ikut melatih di perguruan ini saja, nanti sekalian ajak Ajiz. Kayaknya anak didikku suka dengan jurus-jurus Ajiz tuh”, kata Pak Amrin yang sedari dulu memang selalu minta tenaga pak Dhe untuk membantunya mengajar di perguruan silat ini.

“Wah pak Amrin kan sudah banyak asistennya, masak masih butuh asisten lagi”, pak Dhe menjawab sambil tersenyum

“Hahahaha… nggak kebalik tuh pak Dhe? Bisa kualat kalau pak Dhe jadi iasitenku, hahahah…”,

“Eh iya, ngomong-ngomong pada kemana asisten pak Amrin? Kok nggak ada yang kelihatan?”

“Wah ceritanya panjang pak Dhe, disamping ada yang sedang ujian ataupun berhalangan datang di sore ini, banyak juga yang memilih pindah ke perguruan lain”

“Lho? Kok bisa begitu. Jarang lho anggota perguruan kita yang pindah ke perguruan lain”

“Aku juga tidak bsia memahami mereka pak Dhe. Mereka lebih suka masuk perguruan yang menawarkan kekebalan tubuh ataupun yang dekat dengan hal-hal yang mistik. Gak masuk akal pak Dhe tapi benar-benar terjadi”

Pak Dhe sudah lama ikut perghuruan silat ini dan rasanya aneh kalau mendegar ada yang keluar dari perguruan untuk belajar ilmu lain yang berbau mistik.

Perguruan ini adalah perguruan seni beladiri buka perguruan seni menyerang, jadi sejak masuk perguruan sudah diyakini bahwa tidak akan ada seni menyerang dalam perguruan ini. Kalaupun ditunjukkan jurus menyerang yang mematikan, sebenarnya hanya disampaiakn agar para murid tahu semua jurus silat yang ada di dunia ini.

Pak Dhe masih ingat ketika menjadi pelatih para “fighter” dalam beberapa kejuaraan. Yang selalu ditekankan oleh pak Dhe adalah bagaimana kita bisa mengalahkan musuh tanpa harus menyakitinya. Jangan pernah menganggap lawan bertanding adalah musuh, mereka adalah mitra tanding untuk meningkatkan kemampuan bela diri kita.

“Berikan senyum pada lawan tandingmu, pandang matanya sekejab dan kemudian pusatkan pandangan ke dada lawanmu. Perhatikan semua anggota badannya dan pastikan untuk memenangi pertandingan itu”, begitu selalu nasihat pak Dhe untuk para “fighternya”.

Ajiz terlihat senang ketika latihan pencak itu akhirnya berakhir menjelang maghrib. Tak henti-hentinya dia bercerita tentang perguruan silat itu.

“Pak Dhe, perguruan silat itu bukan untuk gagah-gagahan atau untuk menyombongkan diri. Aku senang bisa ikut berlatih dengan mereka. Tidak ada teman yang menjengkelkan disini, semuanya baik-baik dan sayang sama aku”

“Hahahaha…darimana kamu tahu kalau mereka sayang pada kamu?”

“Iya pak Dhe, mereka pada ingin agar aku ikut perguruan ini..”

“Bukannya agar ada yang bisa mereka ketawain?”

“Bukan pak Dhe. Ketawa mereka berbeda dengan ketawa teman-tejmanku yang suka main bola di dekat puskesmas itu. Ketawa mereka sinis dan mengejek, kalau ketawanya teman-teman disini enak deh didengarnya”

Pak Dhe sampai geleng-geleng kepala mendengarnya. Ajzi yang selalu diajarinya silat di rumah dan selalu males untuk mengikuti gerakannya, ternyata malah langsung minat ikut latihan begitu kenal dengan beberapa temannya yang sudah ikut latihan pencak silat.

Kadang memang perlu menujukkan bukti daripada hanya becerita saja. Tak perlu banyak bicara lagi dan Ajiz sudah langsung tertarik untuk ikut perguruan silat , seperti yang selalu diidamkan oleh Pak Dhe.

Pencak silat memang salah satu budaya yang patut terus dikembangkan untuk melawan modernisasi yang membuat budaya adiluhung makin terkikis oleh budaya baru yang sudah tidak mengindahkan nilai-nilai kemasyarakatan yang seharusnya masih perlu dijunjung tinggi. Menjaga keberadaan dan keberlangsungan hidup pencak silat juga diperlukan sebelum nanti pencak silat diklaim sebagai budaya negara lain.

Tag: , , , ,

4 Tanggapan to “Pencak Silat [21]”

  1. lawliet90 Says:

    jadi inget film merantau yang juga mengangkat budaya silat…..:mrgreen:

  2. Litha Kawaii Says:

    wah jadi pingin lihat filmnya tuh

    siapa bintangnya ya?
    jarang nonton film Indonesia sih, baru akhir2 ini suka nonton film Indonesia

    salam

  3. Harry Says:

    Agar pencak silat lestari, harus ada kemauan dari praktisi pencak silat itu sendiri.
    Tirulah bagaimana beladiri impor mengembangkan diri:
    1 Latihan di tempat terbuka agar mudah terpromosi, jangan latihan menjelang tengah malam di tempat tertutup
    2 Hilangkan superioritas, selama ini antar perguruan pencak silat masih ada yang suka bersaing menonjolkan kehebatan perguruan masing-masing.
    3 Jangan menutup diri. Banyak pesilat sepuh yang enggan menularkan ilmu kepada yunior apalagi melatih orang baru, sehingga ada beberapa silat tradisional hilang setelah praktisinya tutup usia
    4 Masih banyak beberapa hal yang perlu dibenahi agar pencak silat bisa dicintai masyarakat Indonesia

  4. eshape Says:

    @Mas Harry

    Luar biasa pengamatan mas Harry.

    Betul semua komentarnya tuh mas, banyak pesilat tangguh kita yangsudah sepuh akhirnya membawa ilmunya bersama kepergiannya

    Anak didiknya malah tertarik di bidang lain atau tidak menguasai hakekat pencak silat, mereka hany amenguasai gerakannya tapi bukan “spirit”-nya

    Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: