Rumput Pak Dhe [22]

“Sebenarnya ITB sama UGM itu bagus mana sih Bang?”, penasaran Khalid membuka pertanyaan pada Udin begitu mereka bertemu di pos ronda.

“Kamu itu tidak di kantor, di rumah bahkan di pos ronda saja masih membahas masalah itu. Ya dua-duanya lembaga pendidikan terhormat dan sama-sama punya keunggulan mas”, jawab Udin kalem

“Aku hanya penasaran saja Bang. Soalnya orang yang kost di sebelah rumahku selalu menanyakan hal itu padaku. Dia pikir aku maha tahu dan dia pikir banyak lulusan UGM dan ITB yang kerja di pabrik kita”

“Hahaha….memang ada yang mengira kamu maha tahu mas?”

“Hahaha…..”, Khalidpun jadi ikut tertawa.

Setelah tertawa itu reda, Udin mulai bicara dengan serius.

“Begini mas, setahuku pak Dhe pernah cerita tentang kawannya yang dari UGM dan terjebak dalam pertemuan alumni ITB”

“Wah menarik tuh mas”

“Nah ternyata dalam pertemuan itu sempat dibahas juga secara bisik-bisik tentang milis UGM yang mempunyai kelebihan begini begitu, sehingga teman pak Dhe itu merasa tersanjung, tapi tetep tidak ngaku sebagai alumni UGM”

“Terus gimana Bang?”, Khalid makin antusias mendengar cerita Udin

“Nah kata Pak Dhe, di milis UGM sendiri saat itu sedang dibahas tentang hebatnya milis ITB yang mempunyai kelebihan begini dan begitu”

Pecahlah gelak tawa keduanya, sehingga PAk PArto Bakso yang kebetulan lewat terpaksa berhenti sebentar memperhatikan pos ronda itu.

“Ada apa ini mas Khalid dan Bang Udin? Kok kayaknya gembira banget……”, tanya pak Parto

“Gak ada apa-apa pak Parto, kita sedang membahas kelebihan UGM dan ITB, hahahaha….. lucu deh keduanya”

“Lho universitas itu memangnya universitas lucu?”, selidik pak Parto serius.

“Wah…bukan begitu maksudnya pak Parto. Harus cerita dari awal kalau mau tahu lucunya dimana…”, dan Udinpun bercerita kembali pada pak Parto tentang dua alumni yang saling melihat kelebihan alumni yang lain.

Pak Parto akhirnya hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Udin.

“Rupanya rumput tetangga lebih hijau ya Bang?”

“Hahaha…pak Parto sudah menerapkan wejangan yang sering disampaikan pak Dhe ya”

“Iya Bang, pak Dhe kalau cerita tentang rumput tetangga rasanya kita jadi sadar bahwa kitapun punya rumput yang tidak kalah hijaunya”

“Kita juga sering melihat pak Dhe selalu tidak pernah punya masalah, selalu mampu mencari solusi, tapi apakah dalam hidup pribadi pak Dhe juga demikian? Belum tentu kan Pak Parto?”

“Hehehe…iya juga. Rumput pak Dhe belum tentu lebih hijau dari rumput kita juga ya….”

Mereka bertiga akhirnya berpisah di hening malam, mereka tenggelam dalam dunia masing-masing sampai akhirnya pagi menjelang.

Selamat pagi rumput hijau yang segar tersaput embun pagi !

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: