Mau Hutang Kok [malah] Ditagih

“Din aku mau hutang nih”, ucap mas Yono ke Udin ketika mereka bertemu di kantin saat para karyawan sudah mulai meninggalkan kantin.

“Emang butuh berapa No’?”, ucap Udin serius.

“Gak banyak Din, sepuluh juta saja…”

“Hmmm…untuk apa duit sebanyak itu?”

“Biasa Din, istriku sudah kehabisan sumber duit bulan ini dan ada tagihan yang harus kuselesaikan di bulan ini atau aku bakal rugi besar”

“Terus darimana rencana pengembalian hutang ini?”

“Gampang Din, bulan depan ada obyekan yang bisa untuk membayar hutang ini”

“Oooo…bagus tuh langsung lunas…”

“Bukan begitu Din, maksudnya cicilan pertama bulan depan ditanggung lancar”

“Jadi mau dibayar berapa kali?”

“Gimana kalau sepuluh kali Din. Nanti tiap bulan aku setor sejuta lebih deh”

“Oke… aku tidak akan mempermasalahkan berapa kamu mau bayar per bulannya. Yang penting jumlah yang kamu perlukan dan berapa lama mau dikembalikan.”

“Wah kamu baik banget deh Din. Makasih ya…”

“Sama-sama deh”, Udinpun melanjutkan suapan terakhirnya. Sementara itu Yono justru terlihat gelisah melihat sikap Udin yang terlihat tenang, tapi tidak jelas dan tidak seperti Udin yang dikenal Yono.

“Bener kan mas Udin?”

“Lho kamu gak percaya sama aku No’?”

“Percaya deh Din, tapi …”

“Emang aku pernah nipu kamu No’?”

“Maksudku kapan aku bisa ambil uangnya. Bisa sore ini Din?”

“Hmmm …tergantung deh….”

“Tergantung apanya?”

“Aku kan perlu ngambil uang itu dulu ke Pak Dhe”

“Lho…apa hubungannya dengan Pak Dhe Din?”

“Kata pak Dhe, kalau mau minjemin uang ke Yono tolong bilang aku dulu ya. Begitu No’, jadi aku ya menghormati pak Dhe dan akan diskusi dengan beliau dulu sebelum meminjami uang”

Yono tampak terdiam dan terlihat lesu ketika mendengar ucapan terakhir Udin. Sikapnya yang tadinya begitu bersemangat mendadak meredup dan cara duduknya juga sudah seperti kehilangan tulang belulang.

“Ada apa sih No’? Kok kamu tiba-tiba lemas begini”

“Aku pernah dinasehati Din dan aku belum bisa menjalankan nasehat pak Dhe itu”

“Ceritanya gimana No’?”

“Pak Dhe pernah memanggilku ketika melihatku berdoa lama di mushola. Aku ditanya tentang beberapa hal sampai akhirnya menyinggung masalah hutang piutang”

“Hmmm….terus…”

“Pak Dhe bilang caraku sudah benar dengan berdoa lama di Mushola untuk mendapat bimbingan dan petunjukNya, tapi kalau terlalu lama juga tidak bagus..”

“Karena…?”

“Karena waktu berdoaku jadi nabrak jam kerja Din, begitu kata pak Dhe”

“Ooo..iya juga ya..”

“Kata pak Dhe, agar kita mendapat petunjuk dan bimbingan dariNya secara jernih dan bersih, maka sebaiknya aku berdoa di saat orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya”

“Hmm……”

“Itu yang aku belum bisa kulakukan Din. Aku hampir selalu bangun setelah adzan atau maksimal pas berakhirnya adzan subuh. Udah begitu habis sholat subuh, akupun biasanya langsung tidur lagi. Yang lebih parah kadang mendengar suara adzan bukannya bangun malah aku menarik selimutku dan meneruskan tidurku”

“Astaghfirullah…”

“Pak Dhe bilang begini. Kalau mau disegerakan rejeki kita, maka segerakan juga ibadah padaNya. Kalau mau banyak rejeki ya perbanyak saja amalan yang baik-baik. Insya Allah Tuhan selalu ada di dekat kita, tanpa kita sadari, untuk memenuhi kebutuhan kita”

“Subhanallah, aku malah baru dengar tuh nasehatnya. bagus banget tuh. Nasehat sederhana yang logis banget”

“Oke Din, aku ke kantor dulu”, Yono bergegas berdiri dan meninggalkan Udin.

“Gak jadi hutang No’?”, Udin berusaha mengingatkan Yono.

“Gak jadi Din, lain kali aja….”

Udin tersenyum melihat Yono yang berjalan setengah berlari menuju arah kantornya. Dia ingat benar nasehat pak Dhe tentang bagaimana menghadapi Yono, jika suatu saat didatangi Yono untuk berhutang.

Perlahan Udin mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, merobek-robeknya dan membuangnya ke kotak sampah. Andai masih ada Yono, tentu Yono akan tergelak melihat surat permintaan pinjaman hutang dari udin untuk bendahara koperasi pabrik.

“Naudzubilahhi…”

Udin berjanji untuk rajin ibadah dulu sebelum mengajukan surat pinjaman hutang ke koperasi. Semoga Tuhan menunjukkan cara lain selain berhutang, karena hutang bagi Udin adalah cara putus asa menghadapi hidup ini.

“Pasti ada solusi dari masalahku selain berhutang…”

+++

sumber gambar : internet [disini dan disini]

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: