Sukses Menutup Usaha

Pagi-pagi sehabis subuh, mas Naryo sudah menunggu pak Dhe yang biasanya lewat gang Kancil sepulang dari masjid. Mereka sering bertemu di gang ini, sehingga mas naryo hafal betul dengan kebiasaan pak Dhe.

Benar juga dari jauh sudah terlihat sosk pak Dhe yang berjalan tidak terlalu cepat tapi jelas tidak berjalan santai. Itu memang ciri khas pak Dhe kalau berjalan di pagi hari. Kadang terlihat pak Dhe seperti setengah berlari kalau melewati jalan yang penuh dengan pepohonan hijau.

“Selamat pagi pak Dhe”, sapa mas Naryo sambil mengulurkan tangannya.

“Selamat pagi mas Naryo”, jabat erat mewarnai pertemuan pagi hari yang cerah ini.

“Mau ke gereja mas?”, sapa pak Dhe sambil terus menggegam erat tangan mas naryo dan sedikit meremasnya. Ini juga gaya khas pak Dhe kalau bersalaman dengan orang yang dikenalnya dengan baik.

“Enggak pak Dhe. Hehehe…kalau hari Minggu baru ke gereja”

“Oooo iya ya… ini bukan hari Minggu. Kok nggak biasanya, ada apa?”

Mas Naryopun kemudian melepas jabat erat dengan pak Dhe dan mulai bercerita tentang usaha warung sotonya. Sudah tiga bulan mas Naryo menggeluti usaha warung soto dan hasilnya terlihat kurang menggembirakan, sehingga beberapa kali mas Naryo berdiskusi dengan pak Dhe membahas bisnis warung sotonya.

Pak Dhepun ingat beberapa hari lalu mas Naryo tergopoh-gopoh datang ke rumahnya saat malam mulai mendekati tengah malam. Waktu itu mas Naryo bercerita tentang warungnya yang kadang ramai dan kadang sepi.

Pak Dhepun dengan sabar mendengarkan dan memberikan nasehatnya. Ada tiga nasehat yang diberikan pak Dhe pada mas Naryo waktu itu.

  1. Usaha soto kita belum banyak dikenal, karena memang baru buka, jadi gunakan saat warung sepi untuk meningkatkan promosi.
  2. Memberikan harga khusus untuk ibu2 yang melakukan kegiatan (misalnya senam) di sekitar warung, karena omongan ibu-ibu ini akan menjadi promosi yang luar biasa.
  3. Aktif di kegiatan komunitas yang bisa membuat usaha kit ajadi lebih dikenal.

Mas Naryo waktu itu terlihat manggut-manggut dan siap melaksanakan semua nasehat pak Dhe, sehingga pertemuan di pagi hari ini membuat pak Dhe juga antusias. Pak Dhe ingin mendengar hasil dari nasehatnya.

“Pak Dhe masih ingat nasehat yang diberikan beberapa hari lalu, saat malam-malam?”

“Tiga nasehat yang penuh mukjizat itu ya?”, pak Dhe mencoba menanggapi sambil bercanda.

“Bukan yang itu pak Dhe. Nasehat terakhir ketika pak Dhe menyalami di pagar pintu”

“Hmmm….apa ya?”

“Wah pak Dhe kok malah lupa. Padahal itu yang kuingat dan kupraktekkan kemarin dengan sukses”

“Hehehehe…mas Naryo ingatkan aku donk”

Mas Naryo jadi ngakak sendiri melihat tingkah pak Dhe yang dia juga tidak tahu apakah pak Dhe ini pura-pura lupa atau ingin penegasan dari mas Naryo lagi.

“Waktu itu pak Dhe bilang, mas Naryo jangan takut untuk selalu berbaik sangka pada Tuhan. Meskipun Tuhan kita berbeda, karena agama kita lain, tetapi sesungguhnya berbaik sangka itu sangat perlu dilakukan…”

“Terus aku bilang apa lagi…?”

“Kemudian kutanya pada pak Dhe, apa maksud kalimat itu dan pak Dhe menjawab, …dengan berbaik sangka, maka hati kita akan menjadi jernih dan keputusan akan lebih enak dijalankan. Sesungguhnya hati itulah komandan kita”

“Terus?”

“Nah kemarin hatiku sudah bulat untuk menutup usaha warung soto mas Naryo dan semua perlengkapan warung juga sudah sukses dijual sebagai barang second di pasar Babe (barang bekas)”

Pak Dhe terdiam mendengar penuturan mas Naryo yang terus berlanjut seperti kereta api tanpa masinis. Mas Naryo terus bercerita tentang hari kemarin saat dia seharian menjual semua barang-barang yang ada di warungnya.

“Sekarang warung itu sudah bersih dari semua barang yang berhubungan dengan soto pak Dhe”

“………..”

“Jadi sudah kupasang papan nama baru di warung itu”

“Oooo…..”

Pak Dhe kembali ingat beberapa bulan lalu ketika dia datang ke warung mas Naryo saat pembukaan warung sotonya. Waktu itu terlihat mas Naryo sangat antusias dalam membuka warungnya. Perlengkapan warung sotony ameskipun bukan barang baru tapi dicat ulang dan cukup memadai untuk sebuah warung soto yang baru buka.

Masih terbayang betapa sigapnya mas Naryo melayani beberapa pembeli, karena ternyata pada hari pertama berjualan soto, justru para penjaga warungnya malah tidak datang alias mengundurkan diri, termasuk kokinya, sehingga istri mas Naryo sendiri yang menjadi koki.

Pikiran pak Dhe belum bisa menerima, kenapa mas Naryo malah menutup usahanya, padahal pak Dhe sudah memberikan tiga nasehat yang biasanya sangat ampuh untuk membuat usaha yang sepi menjadi ramai lagi.

“Mas Naryo masih ingat tiga nasehat yang kuberikan saat kit amasih di dalam ruang tamu dan bukan di pagar halaman rumah?”, penasaran pak Dhe menyela cerita mas Naryo tentang papan nama barunya.

“Ah itu tentu ingat pak Dhe. Semua orang juga tahu. Aku pernah baca nasehat seperti itu ketika searching di internet”

“Terus nasehat itu mas Naryo jalankan atau tidak?”

“Aku lebih suka nasehat pak Dhe yang di pagar kok, jadi aku lupakan tiga nasehat itu”

Saat pak Dhe masih penasaran terdengar dering ponsel milik Mas Naryo. Dengan sigap mas Naryo melihat siapa yang menelpon pagi-pagi seperti ini dan kemudian memencet tombol hijau di ponselnya.

“Maaf pak Dhe aku terima telepon dulu ya…”

Tanpa menunggu jawaban pak Dhe, mas Naryo langsung nyerocos di ponselnya.

“Tiket Anda disini, ini dengan mas Naryo, ada yang bisa dibantu mbak Dian?”

Meski lirih terdengar suara cewek di seberang ponsel mas Naryo. Pak Dhe dengan sabar menunggu pembicaraan selesai sambil mengamati betapa seangatnya mas Naryo menerima panggilan dari cewek di seberang telepon itu. Di akhir pembicaraan, terlihat senyum mengembang di bibir mas Naryo.

“Oke mbak, sebentar lagi saya kabari. Terima kasih telah menghubungi Tiket Anda”

“Telepon dari mana mas?”

“Dari mbak Dian. Mahadewiku pak Dhe. Kemarin dulu aku menghadap beliau dan bisa meyakinkan beliau bahwa kalau beli tiket pesawat lewat aku, maka ada sedikit yang kusisihkan ke panti asuhan dan tadi dia pesan tiket untuk rombongan kantornya yang akan pergi ke Lombok

“Itu mbak Dian yang ditabrak sepeda motor saat dia naik mobil, tidak bawa STNK dan yang kemudian mas Naryo bantu saat berurusan di kantor polisi dulu itu?”

“Benar pak Dhe. Aku pamit dulu pak Dhe, jangan lupa datang ya di acara launching bisnis baruku nanti malam”

Mas naryo mengulurkan tangannya, menjabat erat tangan Pak Dhe sebentar dan langsung berjalan cepat menuju rumahnya meninggalkan pak Dhe yang termenung sendiri memikirkan kesuksesan mas Naryo menutup usahanya dan langsung membuka usaha baru di keesokan harinya.

Rupanya “hati” memang telah menjadi komandan mas Naryo.

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: