Kisah sebuah tali slink

Alhamdulillah, saya akhirnya bisa ketemu pak De. Sudah lama sekali peristiwanya tapi semoga pak De masih ingat”

Pak Dhe agak kaget juga ketika menerima ucapan dari seseorang yang seperti pernah dikenalnya tetapi lupa dimana bertemunya. Genggaman yang sangat erat dari tamunya membuat pak Dhe makin yakin pernah bertemu, tetapi tetap lupa dimana pernah bertemu dengan tamunya ini.

Udin yang datang mendampingi sang tamu juga membuat pak Dhe makin heran. Tidak biasanya Udin mau menemani orang yang tidak dikenalnya ke rumah.

“Silahkan masuk pak, silahkan duduk..”, dengan penuh basa basi pak Dhe mempersilahkan kedua tamunya masuk dan merapikan taplak meja sebelum tamunya duduk.

Jam di dinding menunjukkan pukul 20.00 tepat, biasanya pada jam-jam ini pak Dhe sudah menutup pintu rumah dan bersiap-siap ngobrol dengan istri tercinta tentang apa saja yang terjadi di hari ini sambil siap-siap menuju ke alam mimpi.

“Kalau pak De lupa dengan saya wajar saja, karena saat itu kita hanya sempat bertemu beberapa menit saja. Waktu itu tengah malam sudah lewat dan kita bertemu di tengah persawahan di daerah kaki gunung Seulawah…”

“Kapan ya? Seulawah?”

“Iya benar pak Dhe. Kita bertemu di kaki gunung Seulawah. Pak Dhe bawa truk ukuran sedang, yang penuh dengan muatan sembako.”

“Hmmm…ya, lalu?”

“Lalu pak Dhe berhenti ketika aku melambaikan tangan. Sebelumnya banyak sekali kendaraan yang lewat, tapi hanya pak Dhe yang mau berhenti, padahal waktu itu kecepatam truk pak Dhe ada di gigi cepat”

“Terus…?”

“Terus pak Dhe bertanya padaku, ada apa kok berdiri di pinggir jalan yang sepi. Kujawab, mobil yang kutumpangi terperosok masuk sawah gara-gara sopirnya mengantuk”

“…..”

Sementara sang tamu terus bercerita, Pak Dhe malah jadi ingat peristiwa beberapa tahun silam, saat dia masih remaja. Sepeda motornya yang melaju kencang berhenti mendadak pas ketika ada seorang anak kecil yang menyeberang jalan. Sepeda motor Pak Dhe langsung selip dan akhirnya setelah berputar berbalik arah menabrak tiang listrik dan berhenti dengan sempurna.

Jeritan seorang ibu muda terdengar bersamaan dengan deritan ban sepeda motor yang menggesek aspal. Jalanan yang sepi mendadak menjadi ramai karena semua orang keluar dari rumah dan memperhatikan seorang anak kecil yang berdiri di tengah jalan yang sunyi dan pak Dhe yang terduduk setelah sepeda motornya berhenti karena menabrak tiang listrik.

Semua orang mengira pak Dhe telah menghindari menabrak anak kecil dan akhirnya memilih menabrak tiang listrik, padahal pak Dhe sama sekali tidak melihat anak kecil itu berlari menyeberang jalan karena pikirannya justru berada di tempat lain.

Kalaulah sepeda motornya berhenti dan akhirnya menabrak tiang listrik, bukan karena Pak Dhe menginjak rem, meskipun suara yang terdengar sebelum menabrak adalah suara deritan ban berhenti berputar bergesek dengan jalan aspal.

Rantai sepeda motornya lepas dan masuk ke jeruji roda sepeda motor, sehingga roda sepeda motornya berhenti berputar dan sepeda motor selip menabrak tiang listrik.

Pak Dhe baru saja mengalami kekecewaan karena pacarnya selingkuh dan memacu sepeda motornya tanpa menghiraukan pengguna lalu lintas lainnya. Tuhan telah menyentilnya dengan melepas rantai sepeda motornya dan itulah titik balik pak Dhe yang biasanya mau menang sendiri.

Pandangan mata penuh terima kasih dari seorang ibu muda yang merasa anaknya terselamatkan dari bahaya tertabrak sepeda motor membuat pak Dhe makin merasa bersalah.

Tiba-tiba lamunan pak Dhe buyar ketika tangannya digamit oleh Udin.

“Maaf pak Dhe, aku mau ke warung sebelah dulu, nanti balik lagi…”

“Oh ya.. ya silahkan, balik boleh tidak balik juga tidak apa Din, hahahaha….”

Pak Dhe mencoba mencairkan suasana, sehingga tamunya menjadi lebih rileks.

“Sudah ingat pak Dhe?”

“Ya..ya…ya… sudah ingat. Saat itu bulan puasa menjelang minggu terakhir puasa ya?”

“Benar pak Dhe, waktu itu kita mau pulang kampung dan malah terkena musibah itu”

Suasanapun akhirnya benar-benar cair. Pembicaraan dari dua orang yang baru bertemu sekali dan bertemu lagi beberapa tahun kemudian ternyata bisa hangat dan penuh canda ria. Memang bukan pak Dhe kalau tidak bisa membuat suasana menjadi cair.

“Jadi sebenarnya saya jauh-jauh datang kesini ini hanya mau mengembalikan tali slink milik pak Dhe yang dipakai untuk menarik mobil dari persawahan”

“Hahahaha…..aku benar-benar kecarian waktu itu. Aku sampai tertawa sendiri saking bodohnya”

“Hahahahaha…maaf pak Dhe saya juga tidak mungkin mengejar pak Dhe yang ngebut, sementara saya harus segera tiba di kota untuk menyelesaikan tugas penting dan kemudian meneruskan perjalanan mudik ke kampung. Kenapa pak Dhe bisa ada disitu pada saat sangat dibutuhkan ya ?”

“Hahahaha… aku sekarang ingat betul kejadiannya. Waktu itu aku benar-benar seperti kena sial. Mobil bosku masuk ke persawahan dan bos menelpon aku untuk membawa truk lengkap dengan tali slink untuk memgeluarkan mobilnya dari persawahan. Ternyata yang kutolong malah orang lain, begitu sampai di tempat mobil bosku terperosok, aku malah tidak bisa menarik mobilnya karena tidak membawa tali slink”

Astaghfirullah… Jadi begitu kejadiannya ya pak Dhe?”

“Benar, begitulah kejadiannya. Waktu itu sebenarnya aku berhenti karena hal lain bukan karena mau menolong menarik mobil dari sawah”

“Karena hal lain apa pak Dhe?”

“Aku mau buang air kecil, pas menepi ternyata malah ketemu sampeyan, hahahaha… ngamuk deh bosku waktu itu…”

“Wah maaf banget pak Dhe, kalau ternyata begitu kejadiannya”

“Tidak apa-apa, semua itu sudah lama berlalu, bosku juga memahami kelalaianku dan meski bersungut-sungut dia tetap baik padaku”

Keduanya sempat terdiam beberapa saat. Pak Dhe kembali mengenang kejadian lucu itu sementara itu tamu pak Dhe merasa sedikit serba salah.

“Sebenarnya begini pak Dhe. maksud kedatangan saya kesisini, selain mengembalikan tali slink adalah untuk memberikan hadiah buat pak Dhe”

“Kenapa harus ada hadiah? Cukuplah itu menjadi cerita kita bertiga saja. Itu hanya kejadian beberapa menit saja. Aku berhenti, memasanag tali slink, menarik mobil keluar dari sawah dan kemudian melepas tali slink, menggulungnya dan lupa memasukkan ke mobil truk karena harus buang air kecil dulu”

“Kejadiannya sebenarnya cukup rumit pak Dhe, tapi aku mau menceritakannya secara singkat dan to the point saja. Waktu itu aku sudah hampir putus asa, sehingga sudah memberi kabar ke kota bahwa aku tidak akan bisa sampai kota tepat waktu bahkan mungkin akan sangat terlambat sampai di kota”

“……………….”

“Aku berikan kuasaku untuk melakukan beberapa hal penting pada asistenku dan aku bersyukur bahwa akhirnya aku datang tepat waktu, sehingga semua pekerjaan yang telah dikerjakan oleh asistenku bisa kuperbaiki”

“…………….”

“Aku tidak tahu kenapa asistenku bisa melakukan pekerjaan yang sangat salah dan kalau aku tidak datang tepat waktu, maka aku yakin tidak akan bisa punya kedudukan seperti saat ini. Waktu itu juga aku ingin memecat asistenku karena kesalahan besarnya, tapi aku ingat beberapa kalimat yang pak Dhe sampaikan di saat kita berdua mengikatkan tali slink ke mobil. ┬áSelalulah berserah diri pada Tuhan, karena semua yang kita terima ini sebenarnya adalah karuniaNya semata. Coba kita lihat kenikmatan Tuhan selama ini, lalu nikmat apa lagi yang kamu dustakan?”

“hmmm …………”

“Itulah titik balik karirku pak Dhe dan untuk itulah aku ingin memberikan hadiah buat pak Dhe”

Pak Dhe sedikit mengernyitkan kening ketika ada kata “pemberian hadiah” berkaitan dengan masalah tali slink ini.

“Kukira hadiah buatku adalah suatu hal yang berlebihan, aku tidak bisa menerimanya. Cukup tali slink saja yang kuterima, tapi tidak untuk hadiah”

Pak Dhepun kembali teringat pada pandangan ibu anak kecil yang hampir ditabraknya. Sungguh kejadiannya mirip benar dengan kejadian waktu itu. Pandangan penuh terima kasih pada pak Dhe yang tidak perlu diberi terima kasih.

“Sungguh pak Dhe, aku dan keluargaku akan sangat mengahargai kalau pak Dhe mau menerima hadiah ini. Aku sudah berunding dengan istriku dan justru istriku yang punya ide ini”

“Jawabku tetap tidak, itu semua sudah ditakdirkan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku hanya perantara dan aku ingin menjadi perantara yang baik. Cukuplah hadiah dari Tuhan untukku”

Pembicaraanpun jadi seru, karena keduanya saling ngotot untuk mempertahankan keiginannya masing-masing, sampai akhirnya pak Dhe tidak bisa lagi mengelak karena sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan tamunya.

“Terima kasih pak Dhe yang mau menerima hadiahku. Mas Udin juga sudah kita kasih hadiah”

“Udin?”

“Ya mas Udin. Berkat info dari mas Udin, kita dapat menemukan pak Dhe. Syukur juga pak Dhe pernah menceritakan kisah ini pada mas Udin, sehingga ketika mas Udin membaca ceritaku dia langsung mengontak aku dan memberikan alamat pak Dhe”

“Hehehehe…rupanya sudah menjadi rejeki Udin ya”

Jabat erat mewarnai perpisahan pak Dhe dengan tamunya. Udin masuk kemudian ketika tamu pak Dhe sudah keluar dari rumah pak Dhe.

“Beres pak Dhe? Luar biasa orang itu. Mau berbagi hadiah gara-gara tali slink yang sepele”

Pak Dhe tersenyum mendengar ucapan Udin. Diserahkannya selembar cek pada Udin sambil berkata, “Din, tolong sampaikan pada panti asuhan bu Yanti ya”

“Lho ini hadiah dari pak yang itu tadi ya?”

“Ya hadiah untuk panti asuhan bu Yanti”

“Bukannya untuk pak Dhe. Wouw besar sekali angkanya pak Dhe…”

“Semoga bermanfaat buat panti asuhan bu Yanti..”

“Amin”

“Amin”

Udin keluar dari rumah pak Dhe dengan penuh suka cita dan sedikit tanda tanya, sementara pak Dhe merasa telah melakukan sesuatu yang benar.

“Terlalu banyak nikmat yang sudah kuterima, aku hampir lupa dengan ucapanku sendiri. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”, ucap pak Dhe di dalam hatinya.

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: