Raja Gombal beraksi Istri Senang Suami bahagia

“Din, aku lihat istrimu tadi di pasar kok senyam senyum padaku kenapa ya?”

“Hahahaha…. aku praktekkan apa yang kamu sampaikan kemarin padaku dan kubilang kalau itu semua darimu”

“Maksudmu ilmu Raja Gombal?”

“Ya benar. Ternyata enak juga jadi Raja Gombal. Istriku puas dan akupun jadi dapat cubitan hangat darinya”

Udin dan Khalid tertawa bersama sehingga membuat Dedi jadi keheranan.

“Apa itu Raja Gombal mas Din?”, tanyanya penasaran.

“Gak pernah nonton TV ya? Itu yang tiap malam minggu”

“Gak ada TV di rumah mas, kalaupun ada pasti nyetel sinetron deh”

“Emang kenapa TV di rumah, rusak?”

“Enggak sih, tapi kubuat seolah-olah rusak. Habis mual jadinya kalau tiap hari nonton sinetron terus”

“Hahahaha…. dasar Dedi, ketua Ikatan Suami Takut Istri”

Udin duduk di samping Dedi dan mulai bicara dengan serius.

“Kelihatannya kamu juga harus ikut nasehat Bang Khalid seperti yang telah kulakukan. Kamu senang, istri juga senang, akhirnya berdua jadi senang”

“Caranya?”

“Ya jadi Raja Gombal sehari”

“Gimana itu?”

“Pertama kali kamu harus mencari suasana romantis yang bisa kau ciptakan”

“Wah aku kurang romantis nih”

“Usahakan seromantis yang kamu bisa dan kemudian tanya istrimu dengan pertanyaan sederhana seolah-olah tidak begitu penting tapi kamu harus meyakinkan istri untuk menjawabnya”

“Pertanyaannya?”

“Dik … Yanti, pernahkah kamu mengukur dalamnya laut?”

“Wah pertanyaannya kok norak gitu..”

“Tenang saja, usahakan saja istrimu menjawabnya. Anggap saja dia menjawab belum pernah ngukur, maka kamu langsung tembak dengan jurus Raja Gombal”

“……..”

“Kamu bilang begini sama dik Yantimu, makanya kamu tidak tahu seberapa dalam cintaku padamu!”

“Hahahaha… gombal asli tuh…”

“Kamu bilang lagi sama dik Yantimu, itu tadi rayuan Raja Gombal dik, mau dengar lagi?”

“Hahaha… kayaknya istriku pasti senyum kecil dan mau kalau digombali lagi tuh mas..”

“Pertanyaan kedua, tahukah kamu dik perbedaan antara ilmu matematika dengan dirimu?”

“Jawabnya?”

“Apapun jawaban dari dik Yanti, kamu bilang begini, Ilmu Matematika itu sangat sulit dipahami……., kalau kamu …….. sangat sulit dilupakan, karena hatiku sudah terlanjur terpaut padamu, Sudah nancep cep !”

“Wah istriku senang gak ya dirayu seperti ini.”

“Kalau masih belum puas, pakai senjata terakhir nih. Senjata pamungkas”

“Apa itu?”

“Bilang sama dik Yanti, bahwa ternyata yang namanya cinta itu pakai masa kadaluwarsa dan kamu sudah tahu kapan tanggal kadaluwarsa itu”

“Lho ini mau ngrayu atau ngajak putus hubungan mas?”

“Biarkan istrimu meresapi kata-katamu dan kamu dekati dia dengan sungguh-sungguh. Buat agar dia melihat padamu dan sampaikan jurus pamungkas ini dengan penuh kesungguhan. Istrimu akan tahu kamu bohong atau tidak dari sinar matamu. Kalau kamu jujur, maka malam itu akan menjadi milikmu dan dik Yanti, tapi kalau kamu tidak jujur, maka selesailah sudah permainan Raja Gombal ini”

“… apa yang harus kuucapkan mas..?”

“Bilang pada dik Yanti, tanggal kadaluwarsa itu nanti pasti akan kuukir di nisanku !”

“…………………….”

Suasana mendadak jadi hening dan akhirnya Dedi tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba membasahi kedua pipinya.

“Terima kasih mas Din. Ucapanmu sangat menyentuh”

Udin yang tidak mengira Dedi bisa menangis jadi serba kikuk. Ketika dia menengok ke arah Khalid, ternyata Khalid malah pura-pura tidak melihat. Rupanya Khalid juga teringat pertama kali dia mengucapkan rentetan kalimat itu pada istrinya.

“Mas Din, aku jadi sadar selama ini aku hanya sering memarahi istriku tanpa sebab yang jelas. Kenapa masalah kantor kubawa ke rumah, sementara istriku tidak pernah mengeluh meskipun aku sama sekali belum pernah membahagiakan istriku. Merayu saja aku tidak pernah, lalu dimana istriku bisa bahagia di atas kemarahan-kemarahanku?”

Udin melihat suara Dedi jadi parau dan dadanya terus berguncang menahan sesuatu yang seperti ingin keluar dari dadanya. Udinpun jadi ingat kejadian tadi malam, ketika dia melihat istrinya begitu bahagia sepanjang hidupnya. Ucapan pak Dhe kembali terngiang-ngiang di telinganya.

“Din, sangat mudah membahagiakan Istri kita, asal kita mau memperhatikannya. Istri kita hanya butuh tempat untuk menyenderkan bahu, mendengarkan kisah-kisah remeh temehnya dan tidak hanya sekedar memberinya nafkah lahir. Istri kita sangat perlu nafkah batin juga”

Tak terasa air mata ikut mengalir di pipi Udin.

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: